catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye

on December 14, 2012

“Cinta hanyalah segumpal perasaan di hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka gulai kepala ikan, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kaucueki, kaulupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan.” (hal. 429-430)

Saya baru kali ini membaca novel karya Tere Liye. Sebelum akhirnya membeli buku ini, saya terlebih dulu dibuat penasaran dengan karyanya yang hingga saat ini sudah berjumlah lima belas novel, karena banyak kawan saya membicarakannya, banyak yang membagi kutipan-kutipan karyanya, banyak yang meng-copy paste status dari fanpagenya. Dan setelah membacanya untuk pertama kali, dengan cepat Tere Liye menjadi penulis favorit saya.

Novel bergenre roman ini berkisah tentang cerita cinta antara Borno dan Mei. Borno pemuda Melayu sederhana yang tinggal di tepian Sungai Kapuas, Pontianak, pernah mencicipi beragam profesi, di antaranya pengemudi sepit (kapal kayu dengan motor tempel yang biasa digunakan sebagai transportasi menyeberangi Kapuas) dan meniti sukses sebagai pemilik bengkel. Di awal kisah diceritakan Borno yang masih berusia dua belas tahun harus kehilangan ayahnya. Ayahnya sempat mendonorkan jantungnya sebelum meninggal. Ternyata dari peristiwa meninggalnya ayah Borno di rumah sakit, ada kisah tiga anak manusia, Borno, Mei dan Sarah yang terjalin begitu rupa hingga saat mereka dewasa.

Di bagian awal, saya merasa gaya kepenulisan Tere Liye seperti meniru Andrea Hirata. Mungkin karena settingnya di lokasi yang memiliki banyak penduduk Melayu. Tapi semakin dibaca, semakin terasa Tere Liye punya gaya sendiri. Deskripsinya tepat, tidak bertele-tele maupun terlalu singkat. Lewat tokoh dengan beragam suku, Melayu, Cina, Batak, Dayak, Bugis, yang hidup damai berdampingan, Tere Liye seolah ingin memberitahukan indahnya keberagaman dalam persatuan.

“Kalian tahu, jangan pernah bilang padaku, “Semoga kau beruntung, Borno”, karena aku sungguh sudah beruntung dengan memiliki mereka: Andi, Bang Togar, Cik Tulani, dan Koh Acong. Itu belum menghitung orang yang sudah kuanggap seperti bapak sendiri: Pak Tua. Aku tahu, meski dia selalu mengolok-olokku, Pak Tua adalah kawan bicara yang selalu bisa membuatku tenteram, membuatku menyadari banyak hal.” (hal. 478)

Banyak sekali kalimat indah dalam buku ini. Kalimat sederhana yang bisa membangkitkan kesan romantis dan puitis. Juga menggambarkan indahnya persahabatan. Selain ikut tersenyum dan menangis (iya, nangis) mengikuti naik turunnya kisah Borno dan Mei, saya juga turut terbawa dalam hangat dan akrabnya hubungan para penghuni gang sempit di tepian Kapuas itu. Persahabatan Borno dan Andi, pertengkaran Borno dan Bang Togar, pesan dan nasihat bijak dari Pak Tua. Tere Liye banyak mengangkat nilai Indonesia dalam buku ini. Menghadapi masalah bersama, membagi makanan pada tetangga, musyawarah, gotong-royong, persis seperti yang diajarkan di buku PPKn dahulu kala.

Meski endingnya agak terlalu sinetron menurut saya, tapi Tere Liye sudah berhasil membuat saya, yang sudah sejak lama merasa muak dan emoh membaca roman kisah cinta picisan, merasa kagum lalu berkata, ini memang satu dari sedikit kisah cinta yang bagi saya layak dibaca.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: