catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Asuransi

on December 19, 2012

Entah untuk keberapa kali, saya didatangi prospektor asuransi. Seingat saya sudah empat orang, dari agensi yang sama. Saya sungguh salut dengan kegigihan mereka. Empat orang itu, mendatangi saya lebih dari sekali. Yang pertama mempresentasikan, yang kedua menawarkan kembali jika kunjungan pertama belum membuahkan hasil. Yang ketiga, mengingatkan kembali presentasi yang pernah dipaparkan pada kunjungan pertama. Jika ada yang keempat, mungkin ia akan menerima payung cantik karena telah mengulang kegiatan yang sama tiga kali.

Dan dalam jumlah yang sama itu pula saya menolak halus tawaran mereka. Terakhir kali, saya pura-pura menghindar, tapi agen itu menunggu saya dengan setia hingga saya keluar dari “persembunyian”. Akhirnya saya temui juga agen itu, sebab saya takut kalau-kalau dia nekat melempar gas air mata jika saya tak kunjung keluar.

Menabung sambil memproteksi. Itulah yang mereka jual. Proteksi dapat, uang pun tidak hilang. Boleh diambil sewaktu-waktu kapanpun dibutuhkan.

Dokter pasti paham risiko penyakit, iya kan Dok? Begitu pintar mereka bicara. Empat orang berbeda dari satu agen yang sama, perkataannya pun mirip-mirip. Jadi dokter pasti paham kalau penyakit tak bisa diduga kapan datangnya, begitu sambung mereka.

Penyakit memang tak bisa diduga kapan datangnya, tapi bisa diketahui dari mana datangnya. Dari Tuhan. Jika Tuhan menghendaki kita sakit, maka sakitlah kita. Jika Tuhan masih sudi memberi kita kesehatan, maka sehatlah kita. Segala sesuatu terjadi atas izinNya. Sesimpel itu saja.

Jadi, saat kita sakit, menurut saya, bukan asuransi yang punya kekuatan memproteksi, melainkan Tuhan. Sebaiknya dahulukan Dia. Kembali padaNya. Terus bertahan denganNya. Tentu dengan cara yang diridhaiNya.

“Segerakanlah sedekah, sebab musibah tak pernah mendahului sedekah.” begitulah kata Rasulullah. Bukan berarti dengan sedekah lantas kita berani mengklaim bahwa kita tak akan tertimpa musibah -ingat lagi asas “segala sesuatu terjadi atas izinNya”- hanya saja dengan sedekah kita memastikan bahwa kita telah menempuh jalan yang benar dalam menghadapi musibah.

Saya tak akan membahas haram atau halalnya asuransi. Sejauh yang saya pahami sebagian besar ulama mengharamkan, tapi sungguh ilmu saya masih sangat dangkal. Pun saya tak akan membahas produk syariah dari asuransi yang sama, yang -lagi-lagi sejauh yang dapat saya pahami- hanya diganti istilah-istilahnya saja. Sudah banyak pihak yang berkompeten menulis kajian yang membahas topik ini. Cukup satu klik di Google dan muncullah semuanya.

Saya hanya ingin menjalani hidup sesuai ketetapanNya. Mencari keridhaanNya. Dan berjalan di jalanNya, meski tertatih dan berkali-kali tersandung. Bukan hendak bersikap sok tahu, hanya memberi penjelasan agak panjang, sedikit lebih panjang dari sekedar gelengan kepala, kepada para agen asuransi yang pernah memprospek saya, dan entah berapa lagi yang akan memprospek saya nanti.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: