catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Pelampiasan

on December 20, 2012

Jika tertimpa masalah, sangat lumrah bagi manusia mencari jalan untuk pelampiasan. Caranya pun bermacam-macam. Jika tak bisa curhat pada teman, biasanya rasa kesal dan marah dialihkan pada hal lain. Ada yang membuang stresnya lewat makanan. Ada yang lewat berbelanja. Ada yang lewat menulis. Sampai ada pula yang ekstrem hingga melukai diri sendiri.

Yang terakhir yang ingin saya bahas. Kenapa? Karena saya baru saja melihat pelaku (atau korban?) yang gemar melukai diri sendiri saat sedang ditekan stressor. Ia mengatakan tidak akan merasa lega jika belum menyilet lengannya sendiri. Istilah psikiatrinya Pathological Self-Harming (selanjutnya kita sebut saja PSH).

Secara umum, seseorang dikatakan PSH jika ia memiliki kecenderungan untuk melukai diri sendiri, dengan atau tanpa niat untuk bunuh diri. Seperti kebanyakan pasien psikiatri, penderita PSH cenderung berkepribadian introvert. Menurut pengakuan salah satu pelaku (atau korban), ia tidak merasa plong dengan curhat, tapi justru merasa plong jika sudah melihat darah mengalir dari luka sayatan siletnya.

Ehem, saya sebagai salah satu pemilik introvert personality mau protes sedikit nih. Memang kebanyakan introvert memiliki kesulitan menceritakan masalah kepada orang lain. Tapi buat saya bukan masalah, sebab orang lain juga kadang tidak perlu tahu urusan pribadi kita. Asal, tahu cara penyalurannya saja, secara positif tentunya.

Banyak kok, mereka yang malah jadi produktif saat sedang galau dengan masalah. Saat sedih malah lahir tulisan berlembar-lembar. Atau jadilah sebuah lagu. Atau jadi lukisan atau sketsa indah penuh perasaan. Kegalauan memaksa proses kreatif kita bekerja. Dengan begitu, kegalauan tersalurkan, potensi pun makin terasah.

Jika merasa tidak punya potensi, kadang banyak yang menyalurkannya lewat konsumsi. Makanan, pakaian, sepatu. Meskipun tidak terlalu dianjurkan jika berlebihan, tapi cara ini setidaknya lebih baik daripada menyilet lengan sendiri.

Tapi kalau kita pikirkan lagi, masalah itu sebenarnya bukan milik kita. Ingat sebuah kalimat dari kitab suci, “Segala sesuatu berasal dariKu, dan akan kembali kepadaKu”. Yang namanya segala sesuatu itu, termasuk pula masalah, kan? Maka selayaknya kita kembalikan masalah kepada yang punya, yang tentunya sudah menyiapkan jalan keluar terbaik untuk kita.

Buanglah stres pada tempatnya.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: