catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Rumput

on January 2, 2013

Di sini, di negeri Ibarat, tinggallah kita sekumpulan manusia. Masing-masing dari kita diberi jatah rumput oleh Tuhan. Jenisnya bermacam-macam, ada rumput gajah, rumput karpet, rumput manila, tapi yang jelas serupa: rumput. Kita diwajibkan memelihara rumput tersebut sebaik mungkin semampu kita. Kita perlakukan semulia mungkin sebisa kita. Kita dibebaskan untuk memilih alat dan bahan untuk merawat rumput: air, pupuk, pestisida. Bebas, baik jenis dan jumlahnya. Alat dan bahan itu harus kita catat dalam laporan pertanggungjawaban, yang nantinya kita serahkan kembali pada Tuhan.

Waktu berlalu, rumput milik kita tak tumbuh sehebat rumput milik kawan di sebelah kiri kita. Meski sudah kita rawat sekuat tenaga, kita beri pupuk terbaik, air yang melimpah, rumput itu tetap saja meranggas. Kering. Seperti hidup segan mati tak mau. Sementara, rumput milik kawan di sebelah kiri kita yang disiram dengan air racun, diberi pupuk murahan, malah subur dan berbunga-bunga.Kita pun heran. Lalu ngambek, tidak mau mengurusi rumput lagi. Kenapa Tuhan tidak memberi kita rumput yang sama suburnya dengan rumput kawan kita?

Di lain waktu, tapi masih di negeri Ibarat, kita sibuk mengagumi rumput kawan di sebelah kanan kita yang nampak sangat hijau. Kita tidak melihat bagaimana jatuh bangunnya kawan di sebelah kanan kita dalam merawat rumputnya. Yang kita lihat hanyalah betapa indahnya rumputnya sekarang. Berbeda sekali dengan rumput kita, yang nampak merana. Jangankan hijau, warnanya saja sudah tak jelas, apakah kuning, coklat atau malah hitam. Kita pun ternganga-nganga melihat hijaunya rumput tetangga, sampai lupa menyirami rumput kita sendiri. Rumput kita makin merana, sampai seolah terdengar ia berteriak, “aku mau mati saja!”. Kita pun heran. Lalu protes, Tuhan, kenapa Engkau tidak adil sih?

Lalu Tuhan menjawab,

“Hey! Kau hanya kuperintahkan merawat rumput-rumput itu sebaik-baiknya. Kau kan tidak kuperintahkan untuk menghasilkan rumput sehijau-hijaunya, atau berbunga sebanyak-banyaknya! Kalian para manusia terlalu gegabah, terburu-buru menilai hasil yang masih nanti, tapi kewajiban yang sekarang saja tak mau memenuhi. Dasar!”

Tak berapa lama setelahnya, badai air dan angin menerpa negeri Ibarat. Hiruk-pikuknya meluluhlantakkan apa yang ada. Setelah badai itu, hanya sedikit saja rumput dan manusia yang berhasil selamat.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: