catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Untuk Pertama Kalinya

on January 7, 2013

—–DISCLAIMER—–

Tulisan di bawah ini norak abis, jadi kalo males baca, monggo tidak usah dilanjutkan🙂

Hari ini (saya menulisnya tanggal 6 Januari 2013), saya berhasil membuat sebuah pencapaian, yang membuat saya lumayan bangga pada diri saya sendiri. Bukan mau sombong, suer deh, bukan, tapi ternyata saya berhasil mengalahkan ketakutan saya dan mengerahkan segenap keberanian untuk melakukannya.

Hari ini, untuk pertama kalinya, saya menyetir mobil sendirian.

Oke, silakan tertawa.

Cuman segitu doang dibilang pencapaian?

Silly, I know.

Akan saya jelaskan alasannya.

Alasan pertama, saya adalah orang yang penakut. Penakut di sini maksudnya bukan takut pada makhluk halus sejenis jin dan hantu. Kalo itu saya justru nggak takut sama sekali. Bukan karena nggak percaya, tapi karena saya yakin bahwa dunia kita dan mereka sendiri-sendiri, jadi mereka tidak mungkin melukai atau membahayakan kita, seperti yang digambarkan di film-film horor lokal.

Maksudnya takut di sini adalah takut mengambil risiko. Jujur, berkendara di jalan raya adalah hal yang dulu sangat menakutkan buat saya. Saya pernah belajar mengendarai motor, tapi tak selesai karena saya terlalu penakut untuk terjun ke jalan. Ribuan kekhawatiran selalu muncul di benak saya saat berada di jalan. Bagaimana jika motor tiba-tiba mogok. Bagaimana jika saya kehilangan keseimbangan dan jatuh. Bagaimana jika saya menabrak atau ditabrak kendaraan lain. Bagaimana jika ini. Bagaimana jika itu.

Akhirnya saya menjadi pengguna setia angkutan umum selama bertahun-tahun. Kalau dihitung-hitung, ada kira-kira empat belas tahun. Sejak kuliah, apalagi di masa koas yang mana terkadang saya harus mondar-mandir rumah-rumah sakit-kampus, kebisaan mengendarai kendaraan bermotor sebenarnya sangat membantu. Tapi saya lebih rela naik turun angkot berkali-kali, bersembunyi di balik ketakutan saya.

Sampai akhirnya saya sudah bekerja, kerepotan itu makin terasa. Apalagi kalau pulang sif sore atau berangkat sif malam jam sembilan, sulit dan rawan rasanya naik angkot. Apalagi saya perempuan. Saya pun malu dan kasihan pada papa saya yang selalu mengantar dan menjemput saya. Mau tidak mau saya harus bisa menyetir mobil.

Takut? Jelas. Jantung saya rasanya mau copot tiap kali harus mengerem mendadak karena motor yang tiba-tiba “nyengklang”, memotong jalan. Atau saat berhenti di tanjakan, dan saya belum menyeimbangkan gas dan kopling, lalu mobil pun bergerak mundur. Atau saat diklakson keras-keras oleh kendaraan lain, nggak peduli apakah klakson itu ditujukan untuk saya atau bukan.

Enam bulan sudah sejak saya pertama kali menginjak pedal-pedal itu. Saya sudah sering nyetir saat berangkat dan pulang kerja, tapi masih didampingi papa. Meski sudah cukup pede, tapi grogi masih tetap menghantui. Apakah saya sudah cukup berani? Bagaimana nanti kalau ada apa-apa dengan mobil saya dan nggak ada papa yang siap menolong?

Alasan kedua, saya buta arah. Saya lahir dan besar hingga sekarang di kota ini, tapi tetap saya bingung jika hendak pergi ke suatu tempat. Lewat mana ya? Dari situ terus ke mana? Puternya lewat mana? Itu daerah mana ya?

Penyakit buta arah yang saya warisi dari mama saya ini cukup parah. Saya cukup sering menerima sindiran “Orang Malang kok nggak tau kota Malang sih,” Menyakitkan, tapi saya terima saja karena memang begitulah kenyataannya. Reality hurts.

Kenapa akhirnya saya memberanikan diri? Karena saya tidak ingin lagi membebani papa. Itu alasan terbesar saya. Papa saya sudah tidak muda lagi, nyaris enam puluh, dan tampaknya sangat tidak lucu kalau di usia segitu papa masih mengantar-jemput anaknya. Lucu buat orang lain, tapi tidak buat saya.

Hari ini, saya harus bisa. Saya akan nyetir ke toko buku sendiri. Papa dan mama pastinya bertanya, “Berani, ndak?” dan saya jawab, “Berani.” meski dalam hati nggak terlalu juga.

Yah, akhirnya saya bisa sampai ke toko buku. Parkir di lokasi yang lumayan sulit, belokan dan tanjakan. Perlu dua kali mencoba sebelum akhirnya mobil bisa terparkir dengan miring. Hehe. Tapi selain itu, perjalanan saya lancar. Dari sini, mungkin benarlah kata orang bijak,

“Kalahkan ketakutanmu, dan kamu akan tahu bahwa sembilan puluh persen ketakutanmu tidak pernah terbukti.”

Sampai di rumah, mama bertanya, “Gimana, sukses?”

Saya jawab,

“Utuh, baik mobilnya maupun orangnya!”😀

Thanks for reading!


2 responses to “Untuk Pertama Kalinya

  1. lia says:

    hahaha…SELAMAT!! ANDA BERHASIL!!
    *traktir pop mie*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: