catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Penilaian dan Tuduhan

on February 2, 2013

Saya rasa, memberi penilaian, melekatkan label, bahkan pada seseorang yang belum terlalu dikenal, sudah menjadi bagian dari kewajaran. Wajar, karena (hampir) semua orang melakukannya. Karena nampaknya seperti itulah cara kerja otak manusia. Apa yang diinput oleh panca indera, dibawa oleh saraf-saraf menuju ke otak untuk selanjutnya diproses dan, dengan banyak faktor yang mengkontribusi seperti ekonomi dan sosiokultural, hasil proses itu dijadikan pemahaman. Itu yang disebut persepsi, atau bisa juga disebut “kesan”.

“Orangnya manis sih, tapi kok kesannya pendiem yah?”

“Badannya gede banget! Full tato, lagi! Mirip preman, serem deh!”

Kalimat seperti di atas lazim kita dengar, utamanya jika sedang membicarakan orang yang baru dikenal atau bahkan, yang tidak dikenal sama sekali. Meski pepatah melarang kita menilai buku dari sampulnya, tapi mau tak mau, suka tak suka, kita pasti tak pernah luput dari urusan menilai dan dinilai itu.

Meski lumrah, nampaknya tak semua manusia siap menerimanya. Terkadang, beberapa orang bersikap terlalu defensif. Tak ingin dicap buruk mungkin, lalu berkata “jangan sembarangan menuduh orang” bahkan di saat lawan bicaranya belum mengatakan apa-apa tentang orang yang dinilai.

Bingung?

Coba pakai ilustrasi deh.

Si A dan si B sedang membahas tentang kelakuan si C. Kata A,
“Katanya si C nilep uang kas, ya?”
Lalu B menimpali,
“Ah, nggak tau, kalo cuma katanya kan belum tentu bener,”
A menjawab, “Iya sih, gue setuju. Kalimat yang diawali “katanya” emang belum tentu bener.”
B menimpali, “Mending coba tanya si C dulu deh. Jangan keburu nyalahin dia, dong!”
A menukas,” Lah, gue kan nggak bilang kalo C salah?” sambil garuk-garuk tanah.

Begitulah kira-kira.

Kalau ditilik lagi, pesan dari B memang baik, jangan sembarangan menuduh orang, akibatnya bisa fatal. Tapi secara tidak langsung, B sudah sembarangan menuduh A bahwasanya A telah menuduh C berbuat kesalahan. Sekarang, siapa yang sembarangan menuduh sebenarnya?

Penilaian, itu wajar dilakukan. Tapi saat penilaian itu berubah menjadi penuduhan (meski keduanya berasal dari hal yang sama: persepsi), maka selayaknya kita lebih berhati-hati. Bisa jadi sang tertuduh yang belum terbukti ketertuduhannya merasa tidak nyaman.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: