catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Niat? Cara?

on February 13, 2013

Dalam menjalani hidup di dunia, niat baik saja tak cukup. Niat yang baik itu harus didukung pula dengan cara yang benar. Dua hal ini saling berhubungan. Jika salah satunya rusak, maka hampir bisa dpastikan, rusak pula hasil akhirnya. Mari kita ambil contoh pada buah pisang. Buah pisang sangat menyehatkan. Pisang mengandung mineral kalium yang baik untuk jantung, magnesium dan mangan yang bermanfaat untuk keseimbangan elektrolit tubuh. Lalu vitamin C dan B kompleks. Oi, jangan lupa, serotoninnya ampuh untuk mengusir kegalauan. Belum lagi kalorinya yang cukup disertai serat, menjadikan pisang buah yang mengenyangkan, menyehatkan dan tidak menggemukkan.

Tapi jika kita memakan pisang itu dalam bentuk digoreng, diselimuti tepung terigu terlebih dulu tentunya, eh ternyata, tepungnya sudah dicampur boraks dan pewarna tekstil, masih untung kalau tidak ditambah formalin pula, lalu dicemplungkan ke minyak yang bercampur lelehan plastik atau lilin. Apa yang terjadi kalau kita memakan pisang seperti ini? Niat ingin sehat, malah racun yang didapat.

Itulah mengapa agama juga selalu menekankan serius hal ini. Bahwa nanti yang akan dihisab bukan hanya niat, tapi juga cara. Saat shalat, bukan cuma niat yang harus tepat, tapi gerakan juga harus benar, pakaian juga harus bersih dari najis dan hadas. Dengan kata lain, niat dan rukunnya terpenuhi.

Begitu pula dengan cinta. Bisa jadi kita semua bisa mencintai, atau berniat untuk mencintai dengan tulus, ikhlas, menerima apa adanya. Rela berkorban dan selalu bertenggang rasa. Sudah macam pengamalan P4 lah pokoknya.

Tapi cinta yang indah itu, akan berkurang atau bahkan hilang indahnya, jika caranya tidak benar, menyerempet-nyerempet maksiat, bahkan melawan larangan Tuhan. Cinta tak harus dibuktikan dengan berdua-duaan, pegang-pegangan, pojok-pojokan, gelap-gelapan.

Cinta itu suci. Niat cinta juga suci. Maka, caranya juga harus suci, dalam komitmen yang suci, ikrar yang suci. Bukan main-main, karena pada Tuhan kita berjanji.

Cinta harus dibuktikan dalam ikatan pernikahan. Pernikahan yang dijadikan sarana mendekat padaNya, meraih ridhaNya. Bukan menikah untuk menyelamatkan muka, melegalkan zina atau bahkan menyakiti pasangan. Semoga kita terhindar dari sikap yang demikian.

Mencintai dan menikahi dengan niat dan cara yang benar, semoga memudahkan langkah kita di hari penghitungan amal kita kelak. Aamiin.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: