catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Empat belas Februari

on February 14, 2013

Empat belas Februari. Hmm. Jadi ingat beberapa tahun lalu, saya pernah diolok oleh seorang kolega, yang bertanya pada saya dapat kado apakah saya di tanggal itu, yang saya jawab dengan gelengan kepala.

“Hah? Gak dapet kado apa-apa waktu valentine? Kasian deh lu!”

Kalau tidak mengingat bahwa kolega yang mengucapkan itu usianya cukup jauh di atas saya, pasti sandal saya sudah nemplok di mukanya. Bukan karena saya marah karena nggak ada seorang pun yang memberi hadiah spesial buat saya, bukan. Tapi karena saya terhenyak dengan pertanyaan yang menurut saya sangat tidak layak ditanyakan kepada saya. Hello? Tampilan udah kebungkus rapat dari atas sampai bawah gini kok ditanyain begituan? Olok-olok itu segera saja saya jawab tegas dengan pernyataan, “Saya orang Islam. Saya tidak merayakan valentine.”

Orang yang bertanya itu hanya mencibir tak peduli, yang membuat hati saya makin bergemuruh. Gemas sekali pengen nyeret dia ke pengajian terdekat, hehehe.

Apa yang saya alami mungkin dialami juga oleh banyak muslimah lain. Saat banyak pihak, bahkan muslim dan muslimah itu sendiri, sudah tak bangga dengan identitas Islamnya, dan begitu mudah meniru budaya yang jelas-jelas pagan. Dianggapnya budaya itu sudah biasa, bagian dari keseharian. Maka rasa aneh dan malu pun menghinggap jika belum mengikuti budaya itu. Dan menganggap saudara dan saudari seimannya yang tidak ikut-ikutan sebagai golongan yang ketinggalan jaman (padahal valentine kan asalnya dari kebudayaan paganisme yang baheula abis dan masih nyembah matahari itu.. Jadi siapa yang ketinggalan jaman sih sebenernya?).

Malu jika nggak ikut palentinan.
Malu jika sudah segede ini belum punya pacar.
Malu jika sudah setua ini masih perawan, bahkan tidak pernah ciuman.

Astaghfirullah.

Islam adalah ideologi yang sempurna. Segala urusan, kami punya tatacaranya. Punya patokannya. Punya pakemnya. Jadi seharusnya, kami tak perlu lagi melongok ke luar untuk mencari solusi. Tapi kenapa, sebagian dari kami masih saja mengadopsi tradisi yang jelas-jelas bukan milik kami?

Bahkan, minimarket yang sebarannya sampai ke pelosok desa pun ikut menjual paket cokelat dan kondom, khusus spesial di hari yang katanya istimewa ini. Nggak usah ditanyalah ya itu cokelat dan kondom buat apa.

Allah.. Mohon ampuni kami..

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: