catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Trip to Medan: Danau Toba (1)

on February 22, 2013

Danau Toba, danau terbesar se-Asia Tenggara, kami tempuh dengan perjalanan darat selama lima jam dari Medan. Kalau dulu sih katanya tiga jam sudah nyampe, tapi dengan traffic Medan yang sekarang ini hal itu sudah mustahil terjadi. Lalu lintasnya Medan memang amburadul. Volume kendaraan memang besar, tapi yang paling utama, pengemudi yang tertib masih jarang ditemui di sana. Semuanya mau duluan, nggak ada yang mau ngalah. Menerobos lampu merah adalah hal biasa. Baru di Medan pula saya temui lampu merah yang menyala selama 185 detik. Baru di Medan juga saya lihat ada dua traffic light dalam jarak yang sangat dekat, sekitar dua puluh meter.

Anyway, kami sampai di Parapat, tepi danau Toba, setelah melintasi Tebingtinggi dan Siantar. Beruntung kesananya bukan di saat akhir pekan, jadi lalu lintas cukup lancar.

Kalau ke danau Toba, belum lengkap rasanya kalau belum menyeberang ke Pulau Samosir. Kami berkesempatan mengunjungi dua desa di Pulau Samosir, desa Ambarita dan desa Tomok.

Desa Ambarita adalah semacam kampung wisata, yang berisi rumah-rumah adat Batak dan batu persidangan. Rumah adat Batak beratap melengkung menyerupai kapal, sebagai pengingat bahwa nenek moyang bangsa Batak dahulu adalah orang Cina yang berlayar hingga sampai ke Sumatra. Rumah adat Batak selalu memiliki ukiran berlambang empat payudara dan tokek. Payudara adalah lambang kesuburan (orang Batak menilai wanita yang subur adalah yang berpayudara besar), sedangkan tokek adalah simbol hewan yang mudah menyesuaikan diri.

image

(bukan) pervert

image

Di sana juga terdapat batu persidangan, yang digunakan oleh raja dan tetua suku untuk berkumpul demi mengadili rakyat yang dituduh berbuat kejahatan, seperti membunuh, memperkosa, menikah satu marga. Mencuri (ternyata) tidak dianggap sebagai kejahatan dalam tradisi Batak, sebab biasanya orang mencuri karena kebutuhan alias kepepet. Para koruptor pasti bersorak gembira nih.

image

Di situlah para raja dan tetua duduk berkumpul, sambil ngopi atau makan durian mungkin.

Setelah terbukti bersalah di batu persidangan, selanjutnya terpidana dibawa ke batu penghakiman. Di sana biasanya ia akan dipenggal, lalu jantungnya dikeluarkan dan dimakan oleh raja dan para tetua adat. Eww. Katanya sih, bisa menambah kesaktian dan kekebalan. Dan memakan jantung terpidana mati itu dianggap bukan kejahatan, sebab setelah mereka terbukti bersalah maka mereka dianggap sederajat dengan binatang yang dagingnya boleh dimakan. Tapi maaf, lupa nggak ngambil fotonya batu penghakiman🙂

To be continued..

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: