catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Hal-hal Sepele

on February 26, 2013

Sebagai manusia yang punya emosi, saya pasti pernah jengkel. Saya bisa luar biasa sabar dalam menghadapi sebuah situasi, tapi saya juga bisa dengan mudah dongkol karena hal-hal sepele. Sebagian karena pengaruh tanggal juga sih (akhir bulan atau dalam masa PMS -red). Tapi ada satu hal yang pasti akan membuat saya kesal setengah mati apapun situasinya dan berapapun tanggalnya. Yaitu bila buku kepunyaan saya tidak utuh di tangan orang lain.

Orang lain mungkin berpikir, ah, buku doang. Lecek juga nggak apa, kan tandanya buku itu dibaca. Kotor nggak apa, namanya barang makin lama ya pasti makin kotor. Kelipet-lipet nggak apa, namanya juga kertas, kan gampang kelipet.

Tidak. Buat saya, buku adalah harta berharga. Bahkan dalam profil blog ini pun saya tulis, “Better having less food to eat than having less book to read.” Lebih baik saya nggak makan sekalian daripada nggak punya buku. Saya suka sebal melihat orang lain memperlakukan buku seperti barang biasa: melipat halamannya, menekuk-nekuk sampulnya, membuka kuat-kuat sampai hampir rontok jilidannya. Bener deh. Saya bisa bete sendiri meskipun buku itu bukan punya saya. Dan, oi, menurut pengalaman saya, kita bisa kok membaca satu buku berulang kali tanpa membuatnya jadi lecek dan kotor. Itu tergantung bagaimana kita menjaganya.

Sebesar itulah saya mencintai buku. Dan sebesar itu juga geregetannya saya jika mendapati orang lain yang tidak bisa menghargai buku.

Buku adalah gudang ilmu, ya kan? Maka, tidak menghargai buku bagi saya sama saja dengan tidak menghargai ilmu. Apalagi jika buku itu bukan properti kita sendiri. Menjaganya harus ekstra hati-hati. Jangan sampai buku yang saat kita pinjam kondisinya masih 100%, kita kembalikan tidak seutuh sebelumnya. Entah itu bukunya sedikit tertekuk, tertinggal sedikit noda yang tidak disengaja, pembatas bukunya hilang. Apalagi bila semua “dosa” itu terkumpul dalam satu buku *curhat*. Bagi kita itu mungkin sepele, tapi bagi pemiliknya belum tentu. Jangan sampai pemilik buku yang kita pinjam kecewa dan menyesal telah meminjamkan buku pada kita.

Buku digital memang sudah banyak. Tapi buku fisik yang lebih rapuh (sampai saat ini) masih ada. Maka, sampai era (digital) itu tiba, bersabarlah sedikit dengan terus menjaga dan melestarikan buku (fisik). Semoga dengan begitu, kita telah melakukan sedikit kontribusi dalam melestarikan ilmu.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: