catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin – Tere Liye

on March 9, 2013

Orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta. (Hal. 247)


Saya rasa kekuatan terbesar Tere Liye sebagai juru fiksi, selain pewatakannya yang kuat, adalah kemampuannya menyusun kutipan-kutipan sadis. Kutipan-kutipan itu bertebaran bagai ranjau dalam bukunya, siap meledakkan hati yang membacanya. Oke, itu lebay. Tapi Tere Liye memang jago menulis kutipan yang panjang dan berirama. Termasuk juga dalam novel ini.

Novel setebal 256 halaman ini bercerita tentang flashback kehidupan seorang gadis bernama Tania, yang di masa kecilnya pernah mengalami masa-masa berat mencari nafkah di jalanan. Mungkin ia dan adiknya serta ibunya akan tetap tinggal di rumah kardus, mengamen dari bus ke bus, putus sekolah, jika ia tidak ditolong oleh seseorang bernama Danar. Danarlah yang menyelamatkan Tania dan keluarganya dari jurang kemiskinan. Tania sangat mengagumi malaikat penolongnya itu, lalu, seiring waktu berjalan, perasaan kagum itu mekar menjadi cinta.

Sejak itulah Tania merasakan pahit getirnya cinta pertama. Tania merasa bersalah dan tidak layak mencintai Danar yang empat belas tahun lebih tua, matang, sukses, sempurna, serta.. telah memiliki Ratna yang mendampinginya dengan setia. Maka Tania memilih untuk mengubur dalam-dalam perasaannya sebab ia merasa, Danar tak mungkin mencintainya.

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.. (Hal. 63)

Dengan konflik batin yang naik turun seperti roller coaster, Tere Liye berhasil menunaikan tugasnya sebagai juru fiksi. Membuai pembacanya dalam imajinasi. Cuma satu kurangnya buat saya, kurang tebal! Seharusnya novel ini masih bisa banyak dieksplorasi lagi. Apalagi setting waktunya memiliki rentang waktu yang lama, sebelas tahun. Tania sebagai tokoh sentral sangat mendominasi, membuat tokoh lainnya hampir-hampir seperti pelengkap saja. Ya itu tadi, penokohan karakter lain seharusnya masih bisa lebih banyak dieksplorasi.

Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. (Hal. 196)

Buat saya, buku yang bagus adalah buku yang meninggalkan perasaan kosong saat saya selesai membacanya. Merasa sedih karena kisah itu telah usai. Dan buku ini, telah berhasil membuat saya merasakan itu. Well done.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: