catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Surat Untukmu

on March 10, 2013

“Hai.. Apa kabar? Emm, kamu mungkin lagi sibuk persiapan ujian ya? Udah sampai mana persiapannya? Walaupun kamu nggak tau, dan aku nggak pengen juga kamu tau, aku selalu menyisipkan doa buat kamu. Tak pernah absen kubisikkan, sehabis shalat. Aku berdoa semoga kamu diberi kelancaran dan keberhasilan. Bukan cuma buat kamu, tapi juga buat semua orang yang akan menghadapi ujian seperti kamu.

Setelah ujian ini, berarti kamu tinggal nunggu kelulusan, kan? Sebenernya aku pengen tau sih rencana kamu gimana setelah lulus. Tapi ya gimana, aku nggak mungkin sok-sok nanya juga, secara kita notabene belum (resmi) kenal. Kita kan hanya berteman di sosial media, tapi pada kenyataannya, kita masih dua orang asing. Yah, aku sih ingin keadaan itu  berubah. Tapi aku selalu pemalu kalau soal beginian. Nggak berani. Ciut nyali. Paling aku cuma berharap kamu sering online. Eh, pas kamu beneran online, aku malah bingung sendiri. Pengen ngajak chat, tapi nggak tau mau ngomong apa. Payah ya? Abis, aku selalu takut kamu akan terganggu dan mengira aku ini sok akrab, sok asik, atau sok-sok sebangsanya lah.

Kemarin aku baru aja mengunjungi toko buku. Aku selalu suka toko buku. Melihat deretan buku-buku, merabai sampulnya yang masih terbungkus plastik, membaca sinopsisnya satu-satu. Segala penatku pasti akan hilang seketika. Kamu suka baca buku, nggak? Tebakanku sih, kamu suka, soalnya kamu keliatannya pinter. Biasanya kan, orang pinter karena suka baca buku. Meskipun nggak selalu mutlak begitu, tapi paling nggak, ada bedanya lah antara orang yang doyan baca sama yang nggak suka baca. Entah itu dari cara berpikirnya, gaya bicaranya, atau dari sikapnya dalam menghadapi permasalahan.

Tuh kan, aku jadi ngelantur.

Ngg.. Yah, nggak tau deh mau ngomong apa lagi. Yang jelas, satu hal yang aku yakini bener, bahwa kita manusia nggak perlu maksain ngerancang-rancang begini dan begitu. If it’s meant to be, it will be. Kalau Tuhan menghendaki, pasti akan terlaksana meski seluruh dunia bersekutu menggagalkannya. Kalau Tuhan tidak menghendaki, pasti tidak akan terwujud meski seluruh dunia bersekutu mengupayakannya. Itu kata seorang penulis terkenal sih, bukan kataku. Aku cuma berharap, kiranya Tuhan berkenan merancangkan kisah yang indah untuk kita. Hehehe..

Weits, mulai ke mana-mana nih pikiranku. Ya udah deh, sampai di sini dulu ya. Lain kali akan kutulis surat lagi walaupun aku tau aku tak akan pernah membiarkanmu membacanya. Karena aku emang lebih suka memendam sendiri perasaanku. Daripada melakukan hal-hal yang norak dan bikin malu. Udah pernah soalnya (ups!), dan aku cukup belajar untuk tidak mengulanginya lagi. Karena urusan ini sangat serius buatku, sehingga aku akan sangat berhati-hati. Maka sampai saat ini tak pernah kuceritakan pada siapapun, kecuali hanya pada Dia, yang maha tahu segalanya.

Semoga kamu selalu sukses dan bahagia, dan disayangi olehNya. Aamiin.”

***

Dian memandangi kertas yang telah selesai ditulisinya itu, membacanya ulang tiga kali. Ia tersenyum-senyum penuh arti. Lalu Dian meremas-remas kertas itu hingga menjadi bola kecil dan membuangnya ke tempat sampah. Masih dengan senyum menggantung di bibir mungilnya, ia berbaring di peraduan dan memejamkan mata.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: