catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Hari Kartini

on April 22, 2013

Hari Kartini sudah lewat. Kemarin, semua pihak merayakannya. Anak-anak kecil berpawai dengan pakaian daerah masing-masing. Stasiun-stasiun televisi menayangkan film-film yang bernapaskan perempuan. Radio-radio mengadakan kuis bertema serupa. Ibu-ibu mengikuti lomba memakai kebaya, bapak-bapak mengikuti lomba memakai daster lalu bermain sepak bola.

Saat sedang iseng menonton televisi kemarin, tanpa sengaja saya menyaksikan sebuah tayangan berita. Berita sepanjang satu segmen itu menayangkan perempuan tangguh dari Garut yang bekerja sebagai buruh angkut batu bata. Setiap hari, perempuan itu mengangkut puluhan batu bata yang diikat dengan kain lalu digendongnya di punggung, lalu ia berjalan tanpa alas kaki membawa batu bata tersebut menuju tempat pendistribusiannya. Saya tidak tahu berapa upah yang diterima perempuan setengah baya tersebut, sebab otak saya sudah sibuk memikirkan sesuatu.

Benarkah perempuan itu tangguh?

Jelas. Mengangkuti puluhan batu bata di punggung bukan pekerjaan ringan. Perlu tenaga dan kekuatan yang tidak sedikit. Ia mungkin kepayahan dan keberatan, tapi ia lakukan saja karena, mungkin, hidup tidak memberinya banyak pilihan.

Perempuan, seperti halnya laki-laki, memiliki keistimewaan tersendiri. Perempuan diberi tugas mulia sebagai penjamin kelangsungan generasi. Melahirkan, mendidik dan membekali anak-anak yang dilahirkannya dengan ilmu, kasih sayang dan gizi yang cukup. Menjadi sistem pendukung yang kokoh untuk suami yang didampinginya.

Masihkah, tugas yang berat itu, harus diberati dengan pekerjaan yang menyita banyak tenaga, yang seharusnya dilakukan oleh lelaki?

Memang, lagi-lagi urusan perut jawabannya. Sistem ekonomi kita yang belum berpihak pada rakyat miskin membuat banyak perempuan harus ikut turun tangan membantu suami. Demi mengisi piring kosong anak-anak mereka. Demi memastikan esok hari anak-anak masih bisa belajar di sekolah. Demi membuat mereka dapat beraktivitas dengan nyaman di rumah yang meski sederhana tapi tidak bocor, tidak rusak.

Memperjuangkan hak-hak perempuan, seharusnya bukan bermakna menyetarakan perempuan dengan lelaki. Bukan memaksa perempuan harus bisa berbuat seperti lelaki bisa. Kartini dulu memperjuangkan hak perempuan untuk bisa memperoleh pendidikan, agar perempuan tidak berkubang dalam kebodohan dan mampu menggunakan akalnya untuk berpikir dan membuat pilihan. Pilihan untuk mengabdikan diri kepada keluarga sambil tetap menghasilkan karya dari tangannya. Dan agar lingkungan sekitar mendukungnya untuk melaksanakan hal itu.

Perempuan pengangkut batu bata tadi memang tak diragukan lagi tangguhnya. Tapi saya rasa, televisi telah keliru memaknai ketangguhan itu. Di mata saya, tayangan itu justru membuktikan, betapa tidak tangguhnya kita, sebagai bagian dari masyarakat, karena membiarkan banyak perempuan bekerja di luar kemampuannya. Tidak kita beri ia kesempatan untuk mengembangkan diri, mengenyam pendidikan atau mengasah keterampilan.

Emansipasi, bukan berarti perempuan harus bekerja seperti laki-laki. Pandangan itu sama sempitnya dengan pernyataan yang menyuratkan perempuan itu tempatnya di rumah saja. Emansipasi menurut saya adalah perempuan harus memiliki hak untuk belajar, menggali potensi, dan yang paling utama, memiliki hak untuk menentukan pilihan yang terbaik untuk diri sendiri, yang didukung penuh oleh keluarga, masyarakat dan negaranya.

Kami, nyata-nyata masih harus banyak berbenah.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: