catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Kenangan yang Beranak Pinak

on April 24, 2013

Betapa ganjil urusan sebuah kenangan. Karena kenangan, seseorang bisa lupa makan. Karena kenangan, seseorang tak bisa tidur nyaman. Karena kenangan, seseorang bisa jadi jalan di tempat, lupa tanggal, lupa mengurus diri, lupa teman. Galau tak keruan.

Yang diingat hanya tanggal terjadinya kenangan. Hidupnya mendadak terbagi dua, sebelum dan sesudah tanggal itu. Garis waktunya terbelah sudah. Ia bertransformasi menjadi pengingat yang brilian. Tak masalah biarpun kenangan itu telah lewat berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Baginya, di otaknya, dalam ingatannya, peristiwa itu baru terjadi kemarin. Masih ingat hingga detil terkecil.

Persetan dengan waktu menyembuhkan. Bila kenangan itu menyakitkan, darahnya tetap segar meski bulan telah berbilang. Bila kenangan itu indah, manisnya tetap menggantung di lidah walau tahun telah berubah.

Setiap hal mengingatkannya pada kenangan. Lalu, muncul hal-hal baru, yang juga mengingatkannya pada hal-hal yang mengingatkannya pada kenangan. Muncul lagi, hal-hal baru, yang juga mengingatkannya pada hal-hal yang mengingatkannya pada hal-hal yang mengingatkannya pada kenangan. Terus begitu. Hingga kenangan menyerupa umbi bawang, berlapis-lapis, makin dikupas makin tak habis-habis. Atau seperti matryoshka, setiap dibuka satu boneka, muncul boneka baru. Beranak pinak persis kucing di atas plafon rumahku. Hingga suatu saat, tak bisa lagi ia membedakan, mana kenangan sungguhan, mana kenangan buatan yang lahir saat mengenang kenangan sungguhan.

Kalau sudah begini, bagaimana bisa lepas dari yang namanya kenangan? Tunggu. Sebelum pertanyaan itu dijawab, ada pertanyaan yang lebih dasar yang harus lebih dulu dipikirkan. Haruskah kenangan dilepaskan? Apakah manusia, atas dasar ego, boleh berkata “kenangan ini tidak akan kulupakan”? Tentu saja boleh, itu kan pilihan. Manusia sebenarnya punya kekuatan besar yang tidak dimiliki makhluk lain: kekuatan untuk memilih. Bahkan bila pilihan itu tidak sehat untuk perkembangan mentalnya.

Atas nama pilihan, bolehlah seseorang mengurung diri, tidur sepanjang hari, meninggalkan semua aktivitas keseharian, terus berkubang dalam lumpur kenangan. Atas nama pilihan pula, boleh pun seseorang bangun, bangkit dan bersiap-siap, memenuhi hak diri sendiri, juga hak orang lain atas dirinya. Terus bergerak meski kenangan itu masih lekat di pelupuk mata.

Atau mungkin, sekali lagi mungkin, ada beberapa kenangan, yang memang diciptakan untuk terus diingat.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: