catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Negeri di Ujung Tanduk – Tere Liye

on April 24, 2013

Apa yang membedakan kebaikan dengan keburukan? Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah kepedulian. Percayakah kita, kepedulian yang saat ini kita tampakkan, sekecil apapun, dapat berdampak besar di masa depan? Jika ya, niscaya kita akan berlomba-lomba untuk peduli. Sayangnya, banyak dari kita yang tak percaya, dan memilih untuk tidak peduli.

Negeri di Ujung Tanduk adalah sekuel dari Negeri Para Bedebah karya Tere Liye. Jika buku sebelumnya Tere Liye membahas borok kapitalisme, kali ini, ia mengupas kebobrokan demokrasi. Alur bergerak cepat, setting waktu dua hari. Penuh aksi dan intrik politik. Kejar-kejaran, tembak-tembakan, pukul-pukulan, bakar-bakaran. Intensitasnya terjaga, setiap halaman mengandung tensi tersendiri. Naik turunnya suasana juga pas, tidak ada fase datar terlalu lama.

Penyelesaiannya, meski cukup heroik, terasa tak lebih dari sekedar keberuntungan. Thomas berusaha mengakhiri konflik sendirian, tapi banyak bala bantuan berdatangan. Kepedulian. Ya, kepedulian. Mungkin itu maksudnya. Negeri ini rusak, bukan karena mental penduduknya bobrok, melainkan karena banyak dari kami, yang tidak peduli lagi.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: