catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Janji yang Tak Teringkar

on May 19, 2013

Kita semua pasti mengenal konsep sebab-akibat. Sudah diajarkan oleh leluhur, sudah terbukti dalam kehidupan banyak manusia, pun sudah terpahat di kitab suci. Siapa yang menanam, dia yang menuai. What you reap is what you sow. Kerja menentukan hasil. Kewajiban ditukar dengan hak.

Lalu, pernahkah kita, dalam satu titik kehidupan kita, mengalami yang namanya ujian sekolah? Mati-matian kita belajar. Begadang bila diperlukan. Membuat ringkasan, membaca berulang-ulang. Habis-habisan demi meraih nilai sebaik mungkin. Lantas, apakah nilai kita dijamin pasti akan bagus, mengingat kerasnya kita berjuang? Jawabannya, belum tentu. Meski sudah belajar suntuk, tetap saja kita mendesah kecewa melihat nilai yang terpampang di papan pengumuman.

Pernahkah kita, dalam satu fase kehidupan kita, melihat seorang pekerja? Ia bekerja dengan sangat baik. Disiplin. Bahkan tak pernah terlambat semenit pun. Pekerjaan selalu selesai tepat waktu. Tapi hidupnya begitu-begitu saja, seperti robot menghadapi rutinitas harian dari pagi hingga malam. Gaji hanya menyisakan sedikit untuk ditabung. Belasan tahun kerja penuh dedikasi, rumah masih ngontrak, ke mana-mana pun naik angkot.

Pasti kita pernah, menyaksikan teman sekolah yang wajahnya nampak asing (saking seringnya dia bolos), malas-malasan, tak pernah mengerjakan tugas. Ujian hanya menyontek saja. Tapi, karena dia menyontek lembar jawaban kawan terpintar di kelas, nilainya pun ikut-ikutan tinggi. Bahkan lebih tinggi dari nilai kita.

Pula pasti kita pernah, melihat pekerja yang culas kerjanya, jilat sana jilat sini, malah kadang korupsinya seperti porsi makan penderita sakit mag akut, kecil-kecil tapi sering. Tapi cepat sekali promosinya naik. Dia bisa membeli rumah secara kontan di tengah kota, dan tiap tahun ganti mobil dengan alasan sudah bosan.

Terlihat tidak adil? Atau hukum sebab-akibat itu punya pengecualian? Apakah dengan fakta itu kita boleh berpikir bahwa, ah, untuk apa kita berbuat baik jika yang berbuat buruk ternyata bernasib lebih baik?

Hukum sebab-akibat memang selalu linier. Tapi, inilah poinnya, garis linier itu tak selalu cemerlang terlihat oleh mata.

Yang jelas, pencapaian seseorang adalah akibat. Sebabnya bisa multifaktorial. Kita tidak bisa serta-merta menarik kesimpulan hanya dari satu atau dua faktor. Kita, karena keterbatasan sebagai manusia, tak pernah bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup orang lain. Tuhan punya skenario sendiri dalam menakdirkan jalan hambaNya, meski kadang takdir itu sulit dipahami logika manusia yang lemah.

Tapi ada satu janji Tuhan yang tak akan pernah teringkar. Terukir abadi di kitab suci. “Hal jazaaa ul ihsaani illal ihsaan”. Tak ada balasan bagi kebaikan selain kebaikan pula. Kalimat ini sungguh indah, bukan? Jika kita melakukan kebaikan, tentu hanya kebaikan pula yang akan kembali kepada kita. Saya kira, ini juga berlaku sama untuk keburukan. Kalau pemahaman ini sudah tertanam dalam hati, maka kita tak akan pernah risau dengan pencapaian orang lain. Jika kita terus berbuat baik, ketahuilah, janji Tuhan tidak teringkar. Lalu, jika yang dilakukan orang lain itu buruk, percayalah, janji Tuhan juga tidak teringkar. Apalagi jika yang berbuat buruk (ternyata) adalah kita sendiri. Wah, kita perlu menangis taubat rasanya. Sebab, lagi-lagi, janji Tuhan tidak pernah teringkar.

Balasan itu pasti ada. Bisa kasat mata, bisa juga tidak. Bisa dihitung dengan standar manusia yang materialistis, bisa juga tidak. Bisa di dunia, atau justru di tempat sebenar-benarnya kehidupan, di akhirat. Apa yang kita pelajari di sekolah sampai suntuk itu, mungkin tidak menghasilkan nilai yang memuaskan, tapi ilmunya tetap melekat di otak dan bisa berguna sampai kapanpun. Pekerjaan yang kita selesaikan sepenuh hati itu, mungkin tidak membuat karir kita melesat cepat, tapi kepuasan hidup yang dihasilkan membuat kita bahagia, dan menghantar rezeki yang berkah.

Seberapapun terlihat tidak adilnya hidup ini, yakinlah, kemuliaan dan kehinaan hidup tidak akan tertukar. Sebab, janji Tuhan memang tidak pernah teringkar.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: