catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Belajar dari Laisa

on May 22, 2013

Kalau kalian pembaca novel Tere Liye, dan sudah membaca Bidadari-Bidadari Surga, pasti tidak asing dengan tokoh Laisa. Saya baru saja selesai membacanya, dan Laisa sekarang menjadi tokoh rekaan yang paling saya favoritkan. My favorite fictitious character.

Laisa adalah gadis sederhana, tinggal di perkampungan sederhana di tepi lembah Lahambay. Ia jauh dari cantik menurut standar televisi dan media jaman sekarang: ia hitam, gemuk, pendek, berambut gimbal, jemarinya sedikit bengkok, bahkan cara jalannya tidak sempurna. Tapi ia berkarakter. Meski tidak berpendidikan tinggi (tidak menamatkan SD), tapi Laisa tak kenal lelah belajar. Meski miskin, Laisa tak pernah berhenti bekerja keras. Meski sering dicemooh, tak sedikit pun ia nampak mengeluh dengan takdirnya.

Laisa bersumpah untuk selalu menjaga keempat adiknya, bahkan jika harus pertaruhkan nyawa. Sumpahnya adalah amanah yang terus ia jaga, tak pernah ia langgar. Laisa berkorban berhenti sekolah, agar adiknya bisa mendapat pendidikan setinggi mungkin. Laisa tak pernah menggugat nasibnya yang harus menunggu jodoh sangat lama, hanya untuk dijadikan istri kedua, itu pun akhirnya gagal juga. Laisa tetap melajang hingga akhir hayatnya. Laisa tetap menyungging senyum ikhlas meski tubuhnya didera kanker tahap lanjut.

Laisa tak pernah keberatan dengan apa yang Tuhan gariskan untuknya. Baginya, semua urusan ini sederhana. Laisa menerima.

Terlalu dramatis? Berlebihan? Entahlah. Tapi saya merasa, meski fiktif, sosok Laisa sangat dekat dengan kehidupan saya. Saya merasa tokoh Laisa sangat membumi.  Saya bisa melihat cerminan Laisa dalam diri wanita-wanita yang menjadi bagian dari hidup saya. Wanita-wanita tangguh, tegar, mandiri. Hebat dalam bekerja keras, tapi sekaligus tawakkal menjalani hidup seberapapun beratnya dirasakan. Wanita-wanita yang (semoga) kelak menjadi bidadari-bidadari surga.

Saya pun ingin menjadi bidadari surga. Bidadari yang mentas dari penempaan iman selama hidup di dunia. Bidadari yang matang oleh segala pemahaman baik atas segala ujian yang datang. Bidadari yang lulus dari sekolah kehidupan dengan nilai sempurna. Bidadari yang jelita dan berakhlak mulia.

Mungkin perjuangan saya masih jauh dari cukup. Mungkin saya tak sampai seujung kuku jika dibandingkan Laisa, wanita-wanita hebat itu, ataupun para ummahatul mukminin. Mungkin saya masih harus belajar banyaaaak sekali. Mungkin nilai saya masih jeblok dan harus remedial berulang-ulang. Saya hanya berharap, semoga saya belum terlalu terlambat untuk memperbaiki diri.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: