catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

NKRI: Ngeri Kali Republik Ini

on June 6, 2013

Ngeri kali republik ini. Mungkin itulah suara hati sebagian besar kami bila melihat carut-marutnya negara kami. Korupsi, hukum yang tak berdaya, dan trio -isme (kapitalisme, liberalisme, sosialisme) yang rasanya makin kuat mengakar, menancapkan kuku, merajalela.

Ngeri kali republik ini. Bila melihat sistem yang bocor di sana-sini. Sistem apa saja. Hukum. Tata negara. Pendidikan. Dan yang hendak dibahas sekarang, kesehatan.

Ngeri kali republik ini. Saat kesehatan hanya menjadi barang dagangan para politisi untuk meraih simpati publik. Jargon “kesehatan gratis untuk rakyat” sudah lama bergema di mana-mana. Konkrit? Belum tentu. Para politisi itu mendadak diam, atau malah mencoba mengalihkan isu, saat ditanya, bagaimana pembiayaan pelayanan kesehatan kita?

Ngeri kali republik ini. Bila pemerintahnya hendak menyamaratakan tarif pelayanan kesehatan, tanpa pandang bulu. Tanpa mempertimbangkan apakah sarana dan prasarananya sudah benar-benar siap. Memang fantastis awalnya. Tak hanya rakyat miskin, semua berhak berobat gratis. Terdengar hebat, bukan? Tapi tak adakah satu pun dari kalian yang bertanya, hei, bagaimana para pelayan kesehatan itu mencari makan jika kita semua tidak mau dipungut biaya?

Ngeri kali republik ini. Ketika masih ada yang berpikir bahwa dokter tidak butuh uang. Dokter tidak boleh mencari uang. Dokter itu pekerjaan yang mulia, sehingga ia harus mengabdikan diri terhadap profesinya, tak dibayar seharusnya tak apa. Toh dokter-dokter itu sudah kaya. Tanpa peduli bahwa apa yang mereka lihat hanya segelintir saja. Mengacuhkan fakta bahwa mayoritas dokter negeri ini bahkan belum layak disebut sejahtera.

Ngeri kali republik ini. Jika anggaran yang seharusnya disalurkan penuh untuk membiayai pelayanan kesehatan itu, tiba-tiba kering. Seperti menguap begitu saja. Tak tersisa kecuali sedikit saja, yang untuk menutup biaya operasional saja tak cukup. Lalu, demi bertahan hidup, dilakukanlah penghematan. Pemotongan gaji, itu cara paling cepat, persetan dengan kesejahteraan para pelayan kesehatan. Hei, kenapa hanya potong gaji kami? Kenapa tak sekalian potong saja leher kami?

Ngeri kali republik ini. Hanya di republik ini penjahat dielu-elukan. Bedebah bisa petantang-petenteng. Punya uang punya koneksi, tak punya uang lebih baik mati.

Ngeri kali republik ini. Saat makin banyak pihak hanya mengutamakan imaji. Pencitraan semu. Termasuk para petinggi yang mengendalikan sistem kesehatan republik ini. Nurani mereka sudah membusuk. Ya Tuhan, tak ada lagikah remah-remah kebaikan yang tersisa di sini?

Ngeri kali republik ini. Sudah terkatung-katung seperti telur di ujung tanduk. Tapi selama api perjuangan masih menyala, setidaknya kami masih percaya, harapan masih ada. Sekalipun dihajar, dihujat, dijegal, kami akan terus memperjuangkan apa yang menjadi hak kami. Kami masih ingin melihat negeri ini bangkit. Meski entah kapan, entah apakah umur mengijinkan.

Ngeri kali republik ini. Tapi tidak, jika masih ada yang peduli.

***

PS. Kalimat “Ngeri kali republik ini” saya kutip dari teman sejawat dokter yang pernah diungkapkan dalam grup facebook Dokter Indonesia Bersatu, sebuah gerakan moral yang menyuarakan kebenaran tentang sistem kesehatan agar makin banyak mata terbuka atas realita ini.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: