catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Tidak Seperti Angsa

on June 16, 2013

Pasti tahu dong, angsa? Iya, si anggun berbulu putih yang sering dijadikan simbol cinta kasih. Pasti tahu juga dong, kenapa angsa dijadikan simbol cinta kasih? Iya, sebab angsa hanya punya satu pasangan selama hidupnya, dan jika pasangannya mati, seekor angsa bisa ikut mati pula karena patah hati.

Kesetiaan adalah gambaran ideal yang selalu menggayuti benak para pecinta. Manusia dibekali sebuah sifat yang namanya cemburu, yang sebenarnya berakar pada ego, untuk tidak ingin membagi cintanya dengan orang lain. Makanya, setiap orang pasti diharapkan untuk setia oleh pasangannya. Sehidup semati kalau perlu. Begitulah yang pernah mereka ikrarkan di bawah pohon tauge dulu.

Tapi, begitulah hidup, tiap-tiap yang bertemu pasti akan berpisah jua. Lalu, sehidup semati tinggallah hanya janji. Saat perpisahan itu menjadi tak terelakkan, saat kepergian sang kekasih hati tak mungkin terhindari, patah hati menjadi sebuah niscaya. Hati terasa kebas. Layu seperti bunga yang tercerabut dari akarnya. Rasanya tak ada lagi gunanya hidup ini. Hampa. Kosong. Timpang. Pincang. Persis seperti angsa yang patah hati, lalu tinggal tunggu waktu saja untuk mati.

Menurutkan perasaan memang enak. Terhanyut dalam kesedihan mendalam seolah jadi satu-satunya jalan untuk membenarkan sikap mengasihani diri sendiri. Sebab, lagi-lagi manusia punya ego, yang sudah setelan defaultnya selalu ingin menuruti hawa nafsu. Hawa nafsu? Ya. Hawa nafsu kesedihan. Kesedihan, sama seperti amarah, cinta, rasa lapar dan haus, keinginan untuk memiliki,  terdapat serat nafsu di dalamnya. Maka pentinglah bagi manusia untuk bisa mengendalikannya agar tak jadi berlebihan dan ujung-ujungnya, merusak.

Well, manusia tidak seperti angsa. Manusia punya tugas yang lebih kompleks dari makhluk apa pun di dunia ini. Beribadah kepada penciptanya. Tugas yang pasti nanti akan dimintai pertanggungjawaban. Dihisab sebagai amalan. Tugas yang sayangnya akan tersia-sia jika dia membiarkan diri terpuruk hingga ajal seperti angsa. Sementara dia juga memiliki alternatif lain, yakni menyadarkan diri bahwa  tugasnya belumlah tunai, sementara waktunya dan hidupnya di dunia terbatas. Hingga ia bangkit, move on, menukas pada dirinya sendiri, bahwa tak boleh ada lagi detik dan menit yang habis untuk meratapi nasib. Tugasnya masih menanti.

Hebatnya lagi, tidak seperti angsa, manusia selalu bisa memilih.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: