catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Saat Dokter Jadi Pasien

on June 25, 2013

Saya baru saja dirawat di rumah sakit. Ya, akhirnya saya harus menyerah pada demam yang mendera saya sejak dua hari sebelumnya. Biasanya demam saya bisa cepat hilang dengan penurun demam dan tidur. Tapi kali ini tidak. Ini bukan demam semacam pengantar flu atau batuk, atau penyakit saya biasanya, yang ringan-ringan itu. Saya juga merasa pusing, mual dan anoreksia.

Tapi saya tidak punya kecurigaan yang mengharuskan saya dirawat di rumah sakit. Sebab, keluhan saya tidak saya rasa terlalu berat. Mungkin saya sok kuat aja, hehe. Saya pun masih memaksakan masuk kerja dan tidak bed rest, malas makan pula.

Saat di rumah sakit, saya iseng-iseng saja melakukan tes Rumple Leed, tes paling cepat, mudah dan sederhana untuk mengetahui kemungkinan perdarahan meski belum ada manifestasi secara klinis. Hasilnya positif. Saya mulai panik. Astaga, saya tidak mau opname. Saya belum pernah diinfus, dan cita-cita saya jangan sampai saya diinfus hingga waktu yang selama mungkin. Malah kalau bisa nanti saya melahirkan normal saja yang nggak perlu diinfus kalau nggak ada indikasi.

Dan cita-cita itu harus kandas kini. Halah. Setelah tes Rumple Leed saya positif, sebaiknya memang saya pastikan dengan cek darah lengkap untuk memastikan penurunan trombosit. Awalnya saya masih menolak. Bandel banget deh pokoknya. Emang dokter itu pasien paling bandel😀 Tapi pada akhirnya saya mau dicek darah dengan harapan trombositnya belum terlalu turun, jadi saya tidak perlu opname.

Ternyata doa saya tidak terkabul saat itu. Trombosit saya turun drastis, 31000 saja. Kagetlah saya. Demam berdarah nih. Segitu rendahnya, mungkin karena saya sedang dehidrasi saat itu, dan juga saya terlalu banyak gerak, nggak bisa diem. Yang jelas kalau trombosit cuma segitu saya juga nggak berani ngerawat sendiri. Leukosit saya juga rendah, 2800. Dengan berat hati akhirnya saya bersedia masuk rumah sakit. Supaya mudah semua urusan, saya opname di RS tempat saya berdinas. Diinfus? Sakit banget ternyata rasanya ya. Menyengat gitu di kulit, linu😦 Mana saya harus ditusuk tiga kali baru berhasil masuk infusnya. Fiuuuhh..

Esoknya, alhamdulillah trombosit saya langsung naik, 136000. Tapi leukosit saya malah turun, 2600. Demam saya juga masih sumer-sumer. Kabar baik baru sampai hari berikutnya. Trombosit saya sudah 137000, leukosit 4900, dan seharian saya sudah bebas demam, bebas keluhan. Keesokan paginya saya sudah diperbolehkan pulang. Alhamdulillah, udah bosen juga sih tidur-tiduran sambil nonton televisi terus, jenuh..

Menariknya, saya sempat dicekkan Immunoglobulin G dan M dengue (IgG dan IgM Dengue) untuk mengetahui infeksi lama dan barunya penyakit ini. Ternyata IgG saya positif, artinya dulu saya sudah pernah terkena, cuma nggak ketahuan. Jadi penyakit saya yang sekarang sudah secondary infection, jadi gejalanya agak ringan (saya nggak merasakan nyeri sendi atau muntah-muntah hebat seperti pasien DB biasanya). Tapi yang saya bertanya-tanya, kok yang primary infection malah nggak pernah saya rasakan keluhan ya? Alhamdulillah, Allah memang baik betul pada saya.

Jadi yah, saya sekarang sudah pulang dan istirahat di rumah, masa recovery, dan gampang lapar🙂 Sedikit-sedikit makan, sedikit-sedikit ngemil. Terima kasih ya Allah, terima kasih buat yang sudah menjenguk dan mendoakan🙂 Semoga kebaikan yang sama dilimpahkan untuk kalian semua, aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: