catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Terlalu Cepat Menghakimi

on July 6, 2013

Akhir-akhir ini saya banyak ngelamun. Sampai lupa nulis. *alesan* Tapi memang bener, banyak yang sedang saya pikirkan. Salah satunya, banyak pertengkaran di sekitar saya yang ujung permasalahannya sebenarnya cuma satu. Masing-masing pihak terlalu cepat menghakimi.

Setelah saya merenung dan melamun di pinggir jendela, sambil mengamati tetes air yang diturunkan Tuhan di atas tanah dan dedaunan, sambil menghayati dinginnya angin kota Malang yang menerpa, saya berkesimpulan, sepertinya, terlalu cepat menghakimi adalah salah satu kesalahan terbesar manusia dalam berhubungan sosial dengan orang lain. Bahkan, “dosa” yang satu ini bisa menjadi pangkal dari banyak dosa lainnya, seperti berburuk sangka alias suudzan, ghibah, fitnah, menyakiti hati orang lain, dan sebagainya.

Apa yang kita dengar, lihat dan rasakan dari orang lain itu hanyalah persepsi kita. Apakah dia benar seperti itu, sungguh hanya Tuhan yang tahu. Apalah tahu kita? Tapi kita, manusia, malah dengan senang hati membiarkan persepsi itu memenuhi pikiran kita, dan tanpa sadar kita pun berburuk sangka tanpa punya dasar, hanya pemahaman terbatas kita saja. Sayangnya kita malah santai menceritakan persepsi kita yang belum tentu benar itu kepada teman yang lain, yang menangkapnya sebagai gosip hangat yang lezat dinikmati. Padahal ia sedang makan bangkai saudaranya sendiri. Naudzubillahi min dzaalik. Kalau toh persepsi itu benar, jadinya ghibah. Kalau persepsi itu salah, jadinya fitnah. Kabar burung berhembus cepat, lebih cepat menyebar dan lebih susah hilang dari (maaf) bau kentut. Hingga sampailah di telinga orang yang sedang dibicarakan. Kabar itu pun menyesak parunya. Menghujam jantungnya. Menusuk hatinya. Sakit hati ia mendengarnya, tapi tak bisa berbuat apa-apa selain tersedu sepanjang malam.

Hanya karena kita tak pandai menjaga pikiran dan lisan, harus ada seorang anak manusia yang membayarnya dengan air mata. Sebetulnya, tinggal tunggu waktu saja sebelum air mata itu, kita yang menjatuhkannya. Sebab balasan itu nyata.

Kita sering kali terlalu cepat menghakimi.
Dan terlalu lambat mengerti.

Seandainya bisa kita lakukan sebaliknya, sedikit menghakimi dan lebih banyak mengerti, mungkin banyak pertengkaran tak perlu terjadi. Mungkin banyak hati yang selamat dari tersakiti. Mungkin banyak ukhuwah yang tak harus terpisah. Mungkin banyak darah tak perlu tertumpah.

Semoga Allah senantiasa menerangi perjalanan hidup kita, setelah Ia memberi petunjuk. Aamiin.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: