catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Laa Tahzan

on July 22, 2013

Sedih. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sedih artinya sedu, isak, merasa sangat pilu dalam hati, susah hati. Tiap manusia pasti pernah merasakannya. Kesedihan adalah sesuatu yang lumrah kita rasakan jika mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan bagi hati. Tertimpa musibah, kehilangan, tersakiti secara fisik maupun mental seringkali menjatuhkan kita dalam lubang kesedihan. Bahkan mungkin ada beberapa di antara kita yang pernah bersedih entah karena apa. Pokoknya bawaannya cuma pengen nangis aja, nggak tau kenapa.

Kesedihan, juga kegembiraan adalah bagian dari perjalanan hidup. That’s life. Bagi saya, kesedihan itu tidak penting. Yang lebih penting dan lebih perlu dipelajari ilmunya adalah pendekatan dalam menghadapi kesedihan itu. Sebab menurut saya, kesedihan bisa dihadapi dengan dua pendekatan. Pendekatan akhirat dan pendekatan dunia.

Pendekatan akhirat bisa dimulai dengan mengingat bahwa dengan kesedihan ini Tuhan sedang mengajarkan kita makna kesabaran. Makna keikhlasan. Makna syukur. Makna tawakkal. Makna hikmah di balik setiap peristiwa. Sekaligus sebagai pengingat bahwa kita hanyalah hamba yang teramat dhaif nan lemah, yang selalu dan selalu butuh bimbingan tangan-tangan Maha Perkasa. Maka kesedihan ini akan mengantarkan kita pada dzikr mengingatNya, syukur pernah diberi kesempatan merasakan nikmat yang kini diambilNya, husnudzan bahwa Tuhan akan mendatangkan pengganti yang lebih baik, dan istirja’, kalimat magis yang sering terdengar dan terucap di tengah badai musibah. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun. Tuhanlah pemilik segala sesuatu, dan hanya kepadaNya semua akan kembali. Inilah kesedihan yang mengantar pada kebaikan.

Pendekatan dunia, adalah jika kita terlalu mencintai dunia, hingga tak suka bila dunia itu tergelincir dari tangan kita. Lalu kita tidak terima. Protes. “Mengapa Kau ambil sesuatu yang sangat kucinta dan tak ingin kuberpisah darinya?” Tidak ridha dengan setiap ketentuanNya. Lupa bahwa sesungguhnya, dunia beserta isinya ini fana, tidak abadi dan akan binasa. Lalu kita membiarkan diri bergelimang dalam gulana, meratap, berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Inilah kesedihan yang tidak bermanfaat, malah mengundang murkaNya. Semoga kita tidak sampai seperti ini ya..

Namun ada satu jenis kesedihan yang menurut saya harus dimiliki oleh setiap orang beriman. Yaitu sedih, ketika mengingat tumpukan dosa di masa lalu. Sedih, ketika mengenang kemaksiatan yang pernah diperbuat. Sedih, ketika menyadari betapa banyak kesempatan berbuat baik yang terlewatkan. Sedih ketika melihat, umur terus berkurang, sementara amal ibadah tidak bertambah. Lalu kita menangisi semua itu, menyesalinya dan memohon ampun kepada Al Ghaffaar, Maha Pengampun. Inilah kesedihan yang dimaksudkan dalam sebuah hadith shahih, “Tidaklah seorang mukmin ditimpa kesedihan, kegundahan dan kerisauan, kecuali Allah pasti akan menghapus sebagian dosa-dosanya.” Wallahu a’lam.

“Jangan bersedih! Sesungguhnya Allah bersama kita.” (At Taubah 40).

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: