catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Hijab Syar’i

on July 23, 2013

Saya mau sharing dikit tentang hijab, ah. Buat yang belum tau, menutup aurat itu hukumnya wajib bagi semua muslimah yang sudah baligh. Sama wajibnya dengan shalat lima waktu dan puasa Ramadhan. Jadi kalau masih ada yang beranggapan hijab itu pilihan, hanya cocok dipakai di bulan puasa dan hari raya, atau malah berkilah “mending jilbabin hati dulu baru kepala”, buka lagi deh Alqurannya. Al Ahzab 59 dan An Nuur 31. Udah jelas kok di situ🙂

Saya sendiri sudah pake hijab sekitar sebelas tahun lebih, Alhamdulillah. Itu setara dengan separuh usia saya. *gak sadar umur* *dikeplak* Pengalaman saya, hijab itu memang tidak lantas membuat kita menjadi orang suci. Hijab tidak membuat kita langsung steril dari dosa dan khilaf. Saya pun begitu. Sepuluh tahun terlewat dengan hijab, saya merasa keislaman saya tidak otomatis bertambah. Segitu-segitu aja malah. Memang, saya yang salah karena males belajar ilmu agama. Tapi itulah, berhijab memang tidak selalu jadi tolak ukur keimanan seseorang. Justru hijab adalah komitmen awal seorang muslimah untuk terus memperbaiki diri.

Selama saya berhijab, memang banyak perubahan yang saya rasakan dalam arti positif. Saya merasa nyaman dan terlindungi. Dan nggak perlu repot mikirin tatanan rambut dan riasan wajah. Siulan-siulan iseng dari lelaki tak bertanggung jawab juga jauh berkurang. Saya masih pakai celana panjang selama sepuluh tahun (kecuali waktu kuliah, karena diwajibkan pakai rok), meski tidak pernah ketat. Kerudung juga masih menutup dada meski seringnya masih tipis.

Baru setahun terakhir saya ‘ngeh’ dengan definisi hijab. Bahwa hijab terdiri atas dua bagian: jilbab sebagai pakaian yang dikenakan, dan khimar sebagai penutup kepala dan dada, atau disebut juga kerudung. Allah memerintahkan bahwa jilbab harus terulur menutupi seluruh tubuh (Al Ahzab 59). Terulur artinya panjang dan tidak memiliki batas. Kalau dalam bahasa Arab, jilbab itu adalah gamis dalam bahasa Indonesia. Setelah mengkaji lebih jauh, saya menemukan bahwa sebaiknya muslimah tidak memakai celana panjang karena masih membentuk bagian kaki, terutama kalau lagi duduk. Sejak itu saya pelan-pelan mulai meninggalkan celana panjang dan beralih ke gamis. Jujur, saya lebih suka pakai gamis ketimbang rok. Pakai gamis ternyata lebih nyaman, nggak ribet padu-padan, longgar, adem pula. Dulu saya sempet khawatir kalau pakai gamis jadi susah ngontrol berat badan, dikarenakan model bajunya yang nggak ‘ngiket’ perut. Tapi itu tidak terbukti. In syaa Allah muslimah bergamis bisa kok tetap langsing, asalkan fisik tetep dijaga. Jangan mentang-mentang outfitnya longgar dan nggak ngebentuk, terus ngerasa aman untuk makan lebih banyak, dan nggak direm. Jangan.

Lalu kerudung, sesuai An Nuur 31, ditutupkan sampai ke dada. Tebal dan tidak menerawang. Saya sempat bingung nih. Kerudung saya hampir semuanya berbahan paris yang tipis. Kalau dilebarkan, bagian leher berisiko terlihat. Kalau satu sisi ditutupkan ke leher, bikin gerah dan tak nyaman. Saya sadar kerudung paris baru tebal jika dipakai dua lapis. Tapi mau menjahit dua paris jadi satu, ukuran kainnya sering nggak sama masing-masing kerudung. Mau beli kerudung dengan bahan tebal semua warna (maklum, cewek, biasanya punya baju semua warna, hihi), aih, budgetnya. Hehehe. Pas lagi mikir gimana cara ngakalinnya, tiba-tiba sebuah ide melintas di kepala saya. Bikin vuring kerudung!

Akhirnya, dengan mengorbankan dua lembar paris warna putih dan krem, saya membuat dua lembar vuring. Saya potong tepi kerudungnya hingga seukuran 100 cm², lebih kecil dari paris yang dijadikan luaran. Tinggal saya jahit sum tepinya, jadi deh. Alhamdulillah. Kalau ditanya, gerah nggak pakai kerudung dobel? Saya jawab, nggak sama sekali. Rasanya sama aja kayak pakai kerudung atau pashmina yang tebel gitu. Dan kalaupun ada muslimah berhijab yang merasa gerah dengan hijabnya, sabar. Keep in mind ukhti, bahwa panas di dunia tak ada apa-apanya dibanding panas di neraka nanti. Lagipula, nggak apa lah gerah di badan tapi adem di hati. Tsaaah.

Kaki yang dulu masih terlihat, perlahan saya tutupi kaus kaki. Bedak, parfum dan lipstik mulai saya tinggalkan. Bukan supaya nggak tabarruj, meski tabarruj alias bersolek berlebihan juga dilarang. Tapi menurut saya selama nggak berlebihan dan mencolok sih masih boleh. Kalau bedak udah lama sih, soalnya saya alergi sama partikel bedaknya. Bersin-bersin deh saya tiap kali ngebedakin hidung. Parfum juga nggak, karena kalau ketemu keringat baunya malah jadi nggak keruan. Saya ganti dengan bedak antiseptik biar nggak bau. Lipstik mulai saya kurangi juga soalnya malah bikin bibir saya makin kehitaman. Ternyata pelembab wajah dan bibir yang mengandung tabir surya sudah cukup untuk menghalau efek sinar matahari yang tak tersaring ozon. Kalau mau lebih bercahaya, tinggal wudhu aja. Hehehe. Simpel, nggak ribet, sesuai prinsip hidup saya. :p

Dulu saya melihat mereka yang berhijab syar’i itu ribet. Ternyata ribet atau nggaknya, tergantung kita membawanya. Kalau dibawa ribet ya ribet. Kalau nggak ya nggak. Malah model kerudung yang lagi tren saat ini, yang banyak tutorialnya di mana-mana, itu malah lebih ribet di mata saya. Bisa sih makainya, tapi belum tentu bisa awet rapi sepanjang hari. Hehe.

However, berhijab itu, terserah deh mau yang sederhana atau yang dililit rumit. Asal mantapkan kembali niat awal kita untuk mematuhi perintah Allah. Pesan saya cuma satu. Syar’i always comes first!🙂

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: