catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Garis Halus

on October 23, 2013

Di dunia ini, rasa-rasanya hampir mustahil menemukan manusia yang tidak memiliki keinginan, impian, dan harapan. Faktanya, justru demi ketiga hal itulah kita bertahan hidup. Justru ketiga hal itulah yang menyalakan gelora dan semangat kita dalam melalui usia. Justru karena ketiga hal itulah, kita menemukan alasan mengapa kita masih belum mengutarakan keputusasaan. Kita pernah mewujudkan mimpi, merasakan indahnya memegang (sebagian) kendali dalam hidup, lalu mendaki pencapaian yang lebih tinggi demi merasakan lagi keindahan itu, yang membuat kita merasakan hidup yang sesungguhnya. Membuat kita merasakan keutuhan menjadi seorang manusia.

Tapi bagaimanapun berkuasanya seorang manusia atas dirinya, sejatinya ia tetaplah seorang makhluk yang lemah. Ada kalanya ia kehilangan daya dalam berupaya. Ada saatnya ia harus mengecap pahitnya empedu kegagalan. Ada masanya segala keinginan, impian dan harapan yang telah tertarikh, perlahan menjelma menjadi asap kosong yang kian sulit direngkuh. Perlahan asap itu meninggi, meninggalkan jejak sunyi dalam pikiran pemiliknya. Ketika masa itu tiba tanpa sesuatupun diperbuat, maka ingin itu berubah menjadi angan-angan. Impian menjelma khayalan. Harapan itu kini tak lebih dari sekedar pengandaian.

Sekilas, kedua hal yang diperbandingkan itu tampak sama. Dan mungkin banyak orang keliru membedakan. Tapi ada satu garis halus di antara keduanya. Batas tegas namun seringkali terlihat kabur bagi mata yang tak jeli. Dan, berdiri di atas garis halus itu, dua hal, yang satu bernama Ikhtiar, yang lain bernama Tawakkal.

Bila muncul kedua hal ini, maka jelaslah perbedaan itu. Seseorang dikatakan memiliki impian, jika dia lalu berusaha mewujudkannya dalam langkah-langkah konkrit, dan bertawakkal atas apapun hasil dari usahanya itu. Jika tidak, maka sebenarnya dia hanya sedang berkhayal. Dia merasa seperti sudah sampai ke bulan, padahal kedua tapak kakinya masih tertanam di bumi.

Seseorang boleh jadi mempunyai keinginan, lalu dia berusaha mengukur dirinya sendiri dan membuat dirinya pantas mendapat apa yang diinginkannya, lalu tawakkal jika dia pada akhirnya benar mendapatkannya ataupun tidak. Jika ia tidak mengukur dan memantaskan diri karena merasa sudah pantas, terlalu percaya diri, lalu menyangkal jika dia belum sepantas itu, maka sesungguhnya dia baru sebatas berangan-angan.

Seseorang bisa saja berharap bahwa tujuannya akan tercapai, tapi tanpa usaha dan tawakkal yang konsisten, maka harapan itu hanya akan menjadi pengandaian yang tak berkesudahan.

Keinginan, impian dan harapan dengan gagah berani akan berjuang menembus batas ketidakbisaan. Sebaliknya, angan-angan, khayalan dan pengandaian akan dengan mudahnya bertekuk lutut seperti pengecut di hadapan kegagalan.

Kita tak pernah tahu apa yang dirancangkan masa depan. Kita bahkan tak sepenuhnya paham seberapa baik rancangan itu untuk kita. Kita bisa gagal kapan saja. Keinginan, impian dan harapan itu bisa hancur kapan saja. Tapi, bukankah kegagalan bisa jadi muncul untuk membantu kita mengikis rasa pongah yang mungkin pernah berkerak dalam hati? Sekaligus, ia mengingatkan kita untuk mengevaluasi ulang ikhtiar dan tawakkal kita, dalam mengeja kembali keinginan, impian dan harapan, agar tak tersuruk menjadi hanya khayalan, angan-angan dan pengandaian, yang tak akan menjadikan kita apa-apa.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: