catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Menuduh Riya’

on January 11, 2014

“Sedekah kok diceritain. Riya’ tuh!”

“Tiap hari selaluu aja update status kalo udah khatam tilawah satu juz. Ikhlas gak sih tuh tilawahnya?”

“Ibadah itu ya biar cuma kita sama Tuhan aja yang tau. Ngapain dipamerin?”

Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar komentar seperti ini, baik di dunia nyata maupun di media sosial. Ada pihak yang mengumumkan ini itu amalan baiknya, lalu komentar demikian tak jarang terlontar. Dari komentar tersebut mereka terlihat kurang setuju dengan orang-orang yang memperlihatkan amalannya, dan mengatakan mereka riya’ atau tidak ikhlas.

Secara istilah, riya’ artinya menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, supaya yang melihat memuji pelaku amalan itu. Riya’ memang berbahaya, karena pahala dari amalan pelakunya bisa jadi hangus sia-sia. Rasulullah bahkan pernah mengkategorikan riya’ ke dalam syirik kecil, sebab pelakunya menjadikan yang selain Allah sebagai tujuannya. Kita tak perlu ragu lagi akan beratnya dosa syirik itu.

Mungkin karena bahaya itulah banyak pihak gemas ingin segera meluruskan, jika seseorang “terindikasi” berbuat riya’. Mereka mungkin tak ingin pelakunya menambah dosa, maka mereka mengingatkan. Meski kadang caranya kurang pas, sehingga kesannya malah seperti menuduh. Lain lagi kalau mereka memang menuduh, meski secara tak langsung, meski mereka juga mungkin tak akan mengakui bahwa telah menuduh, meski menuduh orang lain berbuat riya’ juga tidak jelas fungsinya apa.

Iya. Apa fungsinya? Menuduh orang lain riya’, baik jika orang itu memang betul riya’ ataupun tidak, tetaplah salah. Kalau toh pelakunya memang benar riya’, maka tidakkah yang menuduh sudah membuka aib orang lain? Padahal jika Allah sudah menutupkan aib manusia, tak ada alasan untuk membongkarnya. Kalau ternyata yang dituduh tidak riya’, tidakkah yang menuduhnya sudah berbuat fitnah?

Menceritakan amal tidak selalu berarti riya’. Bisa jadi dia melakukannya untuk memotivasi orang lain agar terpacu berbuat serupa atau lebih baik. Bukankah kita memang diperintahkan untuk berlomba dalam kebaikan? Yang beramal lalu diam saja, juga belum tentu tidak riya’. Jika dalam hatinya tebersit sedikit saja rasa bangga karena telah beramal baik, meski tidak bercerita, ia telah jatuh dalam kondisi sum’ah, berbangga diri. Sum’ah adalah cabang dari riya’ juga.

Pada akhirnya, ikhlas dan riya’ adalah perkara tersembunyi. Ia terletak dalam hati dan niat. Perbuatan bisa ditampakkan, tapi niat tidak. Niat tidak pernah terlihat, tapi diterima tidaknya suatu amalan bertumpu padanya. Dan, karena kita tidak pernah bisa melihat niat seseorang, maka tak pernah ada alasan bagi kita untuk menghakiminya. Jika ternyata niat itu bisa kita buktikan, sepertinya akan lebih bijaksana jika kita bisa saling mengingatkan dengan cara yang baik, tutur yang lembut, sehingga tak ada satu pun pihak yang merasa tertuduh, tersangka, ataupun terdakwa. Manusia memang tempatnya salah dan khilaf, maka Allah ciptakan ukhuwah, agar di dalamnya kita bisa saling menjaga dari dosa.

Semoga Allah mengampuniku yang lancang dan sok tahu ini, yang nekat berbagi meski ilmu masih jauh dari mumpuni. Mudah-mudahan ada manfaat yang menetes dari celotehan ini.

Ihdinash shiraathal mustaqiim.. Semoga Allah perkenankan kita untuk meniti jalan yang lurus..

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: