catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Kenapa Masih Pacaran?

on March 5, 2014

Tulisan ini adalah hasil kegemasan saya atas sebagian muda-mudi yang menjadi “korban” dari yang namanya pacaran. Saya bilang korban karena bisa jadi pelakunya, bisa lelaki ataupun perempuan, tapi yang mau saya bahas di sini adalah pihak perempuannya, sudah mengorbankan apa yang ia miliki, baik materi maupun non-materi, demi lelaki yang belum halal baginya dan belum tentu pula menghalalinya. Bahkan ada yang sampai melawan orang tua. *istighfar*

Model pacaran anak muda jaman sekarang macam-macam. Saking banyak model dan variasinya sampai saya sendiri kurang paham. Hanya sering mendengar dari sekitar, tapi saya bisa belajar dari mereka, bahwa pacaran itu lebih banyak nggak gunanya daripada gunanya. Seorang teman cewek pernah curhat tentang pacarnya yang suka ngambek. Urusan bikin rekening  di bank aja bisa loh jadi bahan ambekan. “Kamu kok nggak bilang dulu ke aku kalo mau bikin rekening?”. Gitu deh. Tapi, aneh bin ajaibnya, lelaki yang sama, yang suka ngambek nggak penting ini, pas ditanyain kepastian tanggal sama camernya, adaaa aja jawabannya. Maju mundur nggak keruan. Sejumlah alasan dia ungkapkan, yang intinya sama: belum siap menikahi putri camernya. Dan entah kapan siapnya. Duh! Padahal si perempuannya sudah bela-belain menyeberang pulau, meninggalkan ayah bunda di pulau seberang demi bisa berdekatan dengan sang pria pujaan.. Kalau udah begini, perempuan sekuat apapun, pasti galau bin sedih juga digantungin kayak jemuran belum kering gitu. Yakin deh.

Ada juga yang pacaran sampai belasan tahun, sampai seperti nggak ada batas lagi, lalu batal menikah karena ketidakcocokan. Ini nih yang bikin saya mikir keras. Nggak cocok kok bisa ya bersama terus sampai sekian lama? Bukannya katanya pacaran itu untuk saling mengenal? Atau mereka memang butuh waktu selama itu sebelum akhirnya benar-benar kenal dan ternyata pengenalan itu tidak berujung pada kecocokan? Terus, selama belasan tahun itu, apa mereka betul-betul belum tahu kalau mereka sebenernya nggak cocok?

Begitulah. Hal-hal seperti ini sangat umum terjadi jika sistem pacaran diterapkan. Iya, memang nggak semua aktivis pacaran begitu. Ada juga yang pacarannya sehat (mungkin karena pacarannya sambil olahraga dan makan sayuran) atau yang pacarannya agamis dan religius. Saling ngingetin shalat. Boncengan di atas motor sambil dzikir. Kalo ngobrol selalu dimulai dengan bismillah biar ngobrolnya bermanfaat. Ketemuannya aja, di masjid sekalian taklim.

Kalau soal hukum fiqhnya, insyaAllah sudah banyak yang membahas. Dan ilmu saya masih cetek banget kalau ngomongin soal fiqh. Saya cuma mau ajak siapapun, lewat tulisan ini, untuk merenungi lagi. Kenapa masih pacaran? Apa sih faedahnya? Dan kalau pacaran itu memang baik untuk kita, kenapa Rasulullah tidak mengajarkannya? Dan karena Rasulullah tidak mengajarkannya, terus kita-kita yang masih pacaran ini ngikutin siapa?

Panjang jawabannya. Kalau dirunut sampai jauh malah bisa tersambung ke dampak dari kapitalisme, produk jahiliyah, bahkan perang pemikiran untuk menghancurkan umat Islam. Membahasnya mungkin butuh dua hari dua malam suntuk. Hehe.

Saya yakin, Allah melarang kita berduaan dengan lawan jenis (apalagi sampai pacaran) itu ada alasannya. Allah sangat menyayangi kita, sampai-sampai Dia nggak mau kita menggalau dan bersedih gara-gara hal nggak penting. Dia nggak mau kita sampai nggak produktif gara-gara susah move on. Allah ciptakan kita buat jadi khalifah yang menegakkan kemuliaan di muka bumi. Tugas yang nggak bisa dibilang ringan. Apa jadinya kalau manusia yang dibebani tugas seberat itu malah letoy dan lemes hanya karena galau urusan pacaran. Makanya segala hal yang berpotensi bikin galau itu, dilarang untuk dilakukan sejak awal. Preventif!

Allah sangat sayang pada kita, kaum perempuan. Maka Dia mengharuskan kita menjaga kehormatan. Karena Dia tahu kita punya perasaan yang halus, yang peka, tapi juga mudah dipermainkan. Maka Dia memberi kita hijab, memberi kita batasan. Bukan untuk mengekang, tapi untuk menjaga.

Bila hati sudah terikat cinta, Allah beri pernikahan sebagai solusinya. Belum mampu? Puasa. Sambil terus memampukan diri. Dan mampu di sini bukan cuma soal materi, tapi juga soal kedewasaan dan kesiapan. Lelaki semacam itu bisa sih didapat dari jalan pacaran, tapi nggak semua lelaki yang pacaran bisa begitu kan? Artinya, masih ada PERJUDIAN dalam pacaran. Masih ada (banyak) ketidakmenentuan yang rentan menggalaukan. Karena kita mempertaruhkan milik kita demi mendapatkan sesuatu yang (sayangnya) belum tentu bisa kita miliki. Dan awamnya kita pun tahu, perjudian itu dilarang oleh Prof Rhoma, eh, maksudnya dilarang oleh Allah.

Menariknya, banyak juga ternyata aktivis pacaran yang tahu kalau pacaran itu dilarang, tapi tetap melakukan. Buat mereka-mereka ini ingin juga saya tanyakan lagi, kenapa masih pacaran? Masih ragukah dengan ketentuan Allah? Masih bimbangkah untuk taat padaNya? Tidak percayakah pada kemampuanNya mempertemukan jodoh kita, tanpa lewat jalan pacaran?

Maafkan jika saya terkesan menggurui. Saya bukan ustadzah, bukan guru ngaji. Saya hanya ingin berbagi. Bahwa untuk memetik hikmah, tak harus kita yang menjalani. Untuk mengerti efek buruk pacaran, tak harus kita yang mengalami. Saya tak punya kuasa untuk melarang mereka yang pacaran. Saya hanya punya blog tempat saya menumpahkan keresahan. Keresahan yang muncul dari rasa tak rela, jika saudari saya sesama perempuan harus merasakan dampak fisik dan psikologis yang merugikan dari sesuatu yang bernama pacaran, atau yang sejenisnya. Maka hanya lewat catatan kecil inilah, saya bersuara.

Semoga bermanfaat.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: