catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Hijrah

on April 21, 2014

Aku tiba-tiba teringat kejadian hampir dua belas tahun yang lalu. Saat aku masih remaja tanggung yang baru beberapa bulan berhijab. Aku ingat, saat aku masih kelas dua SMA, aku diajak mengikuti kelompok mentoring Islam yang diadakan rohis di sekolahku. Mentornya adalah kakak kelasku yang sebut saja namanya Kak Noni. Kak Noni ini sangat manis orangnya, wajahnya teduh, senyumnya ramah. Dan ia makin tampak anggun dengan kerudungnya yang menjulur lebar hingga ke betis. Meski saat itu aku tak paham kenapa kerudungnya harus selebar itu, tapi aku tetap mengaguminya. Sosoknya yang kalem dan tutur katanya yang lembut membuatnya terlihat sangat ideal sebagai muslimah di mataku.

Dengan semangat belajar agama yang masih menyala dalam dada, aku dengan senang hati bersedia mengikuti mentoring. Tibalah hari saat pertemuan pertama. Kelompok yang beranggotakan sepuluh siswi dari kelas yang berbeda itu langsung membaur. Namanya masih pertama, pertemuan itu kami isi dengan saling berkenalan, saling menyebutkan tanggal lahir dan hobi, bahkan mencatat warna favorit masing-masing. Sepertinya ini adalah salah satu usaha Kak Noni untuk mengeratkan persaudaraan di antara kami. Semua berjalan lancar.

Sampai tiba saatnya di akhir acara. Kak Noni menyampaikan beberapa kalimat penutup. Satu kalimat yang paling saya ingat sampai sekarang berbunyi seperti ini.

Saya tahu, kalian belum berjilbab panjang. Tapi di sini kita semua akan sama-sama belajar, untuk terus memperbaiki diri.

Entah kenapa, aku seperti tersengat mendengar kalimat itu. Aku merasa ada yang salah. Belakangan memang kuketahui yang salah adalah pikiranku sendiri yang masih tertutupi nafsu, tapi tentu saja saat itu aku belum menyadarinya. Saat itu yang berkecamuk dalam pikiranku adalah: “Memangnya jilbabku ini salah? Yeah, aku memang belum ahli-ahli banget soal agama, tapi aku tau kok kalau kerudung itu harus menutup dada. Dan ini juga sudah menutup dada. Memang kurang panjang yang gimana lagi, sih? Masa harus sebetis kayak Kak Noni?”

Lebih jauh, kalimat itu juga yang membuatku akhirnya enggan mengikuti pertemuan kedua. Aku menolak dengan bermacam alasan, begitu pula dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Sampai mungkin Kak Noni lelah dan tak lagi mengajakku mentoring. Dalam pikiranku, aku ketakutan bahwa jika ikut pertemuan nanti jilbabku akan dikritik. Pakaianku akan disalahkan. Jangan-jangan nanti dilarang pakai celana panjang, lagi. Siapa yang mau?

Tak pernah kusangka bahwa kalimat Kak Noni itu baru benar-benar kupahami sepuluh tahun kemudian. Dan baru kumengerti juga tak ada satu pun kalimat Kak Noni yang salah. Hanya saja aku yang belum apa-apa sudah terhakimi dan terintimidasi duluan. Merasa disalahkan duluan. Padahal aku juga yakin Kak Noni tidak pernah bermaksud begitu.

Aku yakin, yang kualami ini juga dialami oleh banyak muslimah di luar sana, bahkan mungkin dalam bentuk yang lebih parah. Saat baru saja memutuskan untuk hijrah dengan berhijab, tapi lalu enggan untuk menyempurnakan hijabnya. Sebab, alih-alih didukung, muslimah tersebut malah mendapat kritikan dan sindiran yang menyasar pada jilbab dan caranya berpakaian, baik secara langsung maupun tak langsung. Ya Allah. Jangan sampai.. Jangan sampai kita menjadi penghalang muslimah lain untuk mendapat hidayahNya hanya karena kita kurang terampil menjaga lisan, ya..

Buat Kak Noni di manapun Kakak berada. Maafkan saya karena telah menyalahartikan nasihat Kakak. Saya yakin tak pernah ada yang sia-sia. Termasuk usaha Kakak membantu saya mendapatkan ilmuNya. Semoga dilimpahi pahala dari Allah ya, Kak. Terima kasih banyak atas niat baiknya, Kak Noni..

Dari sharing saya ini mungkin kita bisa sama-sama berhikmah. Bahwa dalam menuntut ilmu dan meraih hidayah, perlu keterbukaan dan kerendahan hati. Bahwa dalam menghadapi seseorang yang pemahaman Islamnya masih level beginner, mungkin yang levelnya lebih tinggi sudah tak sabar ingin mendakwahinya. Tapi sebelum itu, mungkin, ada baiknya disamakan dulu level pemahamannya, agar kedua belah pihak bisa saling mengerti dan dimengerti. Tahan dulu keinginan untuk membenahinya segera. Usir jauh-jauh segala bentuk kritikan dan sindiran yang menyakitkan, sebaik apapun maksud di baliknya. Apresiasi dulu apa yang sudah dia capai, bimbing pelan-pelan dan jangan pernah berhenti mendoakan. Mungkin..

Masing-masing orang punya perjalanan hijrahnya sendiri. Punya prosesnya sendiri. Perubahan ke arah yang lebih baik, sekecil apapun itu, selalu layak dihargai. Pada akhirnya, hidayah adalah hak prerogatifNya. Sampai atau tidaknya seseorang pada hidayah itu, kita tidak pernah tahu. Kita hanya bisa membantunya menunjukkan jalan, dan berdoa semoga ia tidak tersesat..

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: