catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Zona Nyaman, Zona Pertumbuhan

on July 9, 2014

Sudah sering ya, dengar istilah zona nyaman? Buat yang masih asing, dalam bahasa psikologi zona nyaman bisa didefinisikan sebagai situasi di mana seseorang dapat secara leluasa menjalankan kondisi mentalnya tanpa ada kegelisahan dan dengan risiko yang “relatif” tidak ada. Pendek kata, situasi yang kita merasa nyaman secara psikologis di dalamnya.

Zona nyaman, seperti namanya, memang nyaman. Tidak ada tuntutan. Tidak ada bahaya. Tidak ada risiko (yang terlihat). Tidak ada ancaman. Tidak ada kegelisahan. Yang mana ketiadaan semua hal itu juga berarti satu hal: tidak ada pertumbuhan di sana.

Ibarat tanah, zona nyaman adalah tanah yang terdiamkan, tak pernah merasakan riuhnya dipukul dengan cangkul, diinjak-injak oleh bajak, atau berbasah-basah digenang air, yang akan membuatnya menjadi gembur. Akibatnya, tanah itu akan kehilangan kesuburannya. Mungkin jadi tandus dan kering. Ia bukan lagi media yang baik untuk ditanami bibit tanaman.

Sedangkan zona pertumbuhan, ibarat tanah yang disiapkan untuk ditanami. Sebelum siap ditanami, tanah terkadang perlu lebih dulu dibakar untuk meningkatkan kadar karbon yang akan berguna sebagai zat hara. Lalu didiamkan dibawah terik matahari berbilang bulan lamanya. Belum lagi serangkaian ritual seperti dicangkul, dibajak, dipupuk, disiram. Hasilnya adalah tanah yang berkualitas, yang bukan hanya layak ditanami, tapi juga menghasilkan tanaman yang prima dari akar hingga ujung daunnya.

Zona nyaman, seperti namanya, memang nyaman. Tapi mematikan. Kita tak bisa membangkitkan potensi yang semestinya ada dalam diri kita. Peluang untuk jadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya makin kecil dan menutup. Hingga yang terjadi hanyalah stagnasi. No improving quality. No progressive change. Air yang didiamkan, kelamaan juga akan keruh. Apalagi manusia. Rasa nyaman memang menyenangkan untuk mental kita, tapi membunuh pelan-pelan.

Zona pertumbuhan, seringkali harus dilalui dengan beragam proses menyakitkan. Kita harus hadapi takut dan gelisahnya. Kita terima lebam dan memarnya. Kita bangkit setelah terantuk jatuh. Kita dituntut untuk terus berubah, terus belajar, terus bergerak. Hingga kita dapatkan apa yang kita kejar. Hingga pertumbuhan itu akhirnya membuahkan hasil.

Hidup, sebenarnya hanya berkutat di antara dua zona ini. Kita menciptakan situasi yang membuat kita nyaman. Lalu entah karena dipaksa keadaan ataupun karena kemauan sendiri, kita harus keluar dari zona nyaman dan masuk ke zona pertumbuhan. Kita terus bertumbuh, hingga sampai pada suatu saat, pertumbuhan itu terhenti. Jika tidak terjadi pertumbuhan lagi dalam waktu lama, maka kita telah berada dalam zona nyaman. Jika zona nyaman tak lagi membawa peningkatan untuk kita, maka sudah saatnya keluar dan pindah ke zona pertumbuhan yang baru.

Tidak bisa dibilang mudah. Tapi segala urusan ini hakikatnya sederhana. Kita hanya berpindah dari zona nyaman satu ke zona nyaman berikutnya. Peralihan antara dua zona itu yang disebut zona pertumbuhan. Persoalannya kini hanya tinggal bagaimana menyeimbangkan kedua zona itu.

Tidak akan ada pertumbuhan dalam zona nyaman. Alih-alih berharap demikian, lebih baik kita memikirkan bagaimana agar zona pertumbuhan itu terasa nyaman bagi kita. Zona pertumbuhan memang berat, tapi menyimpan banyak kebaikan. Kita akan melakukan banyak pengorbanan, tapi jika untuk hal yang baik, maka pengorbanan itu pun akan menjadi sebuah kebaikan. Dan sesungguhnya bagi Tuhan, tidak ada satu pun kebaikan yang tersia-sia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: