catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Gemuk? Kurus?

on July 19, 2014

“Gemukin tuh badannya, biar enteng jodoh,”
“Hah? Kenapa gitu?”
“Iya. Kata orang dulu, cari pasangan jangan yang badannya kurus. Lha wong sama badannya sendiri aja dia pelit, apalagi sama pasangannya nanti?”


Anekdot ini kisah nyata, pengalaman saya sendiri. Di negeri yang menganggap makanan sebagai barang mewah, pernyataan seperti di atas lumrah terjadi. Mungkin karena kita dijajah bangsa lain terlalu lama. Sehingga kita menderita kelaparan juga dalam waktu yang lama. Perasaan lapar itu mungkin terus terbawa dan diturunkan lintas generasi. Akibatnya, saat penjajahan usai, dan tak lagi ada kelaparan, rakyat malah memuja makanan secara berlebihan. Dampaknya masih terasa sampai sekarang. Kita merayakan hampir semua hal dengan makan-makan. Tidak salah memang, karena makan adalah kebutuhan dan kebiasaan. Tapi makanan perayaan itu spesial, karena cenderung dibuat lebih lezat dari biasanya, yang sayangnya bisa mengundang lebih banyak penyakit.


Makan enak sebagai bentuk syukur? Boleh saja. Asal ingat batas. Bukankah Tuhan tidak menyukai semua yang berlebihan? Dan bukankah menjaga diri untuk tidak melewati batas itu, juga adalah bentuk cinta kita kepadaNya?


Bukti lain pemujaan kita terhadap makanan adalah, kita memandang kegemukan sebagai tanda kemakmuran. Padahal sama sekali tak berkaitan. Dulu, obesitas dan penyakit jantung memang identik dengan orang kaya, karena hanya mereka yang mampu menikmati daging yang berlemak. Tapi sekarang, obesitas dan penyakit jantung tak lagi memandang status ekonomi. Mereka dengan status ekonomi rendah juga mulai banyak terserang “penyakit orang kaya” ini, karena yang mereka konsumsi adalah junk food yang murah meriah seperti gorengan, makanan olahan, makanan yang diawetkan, diasinkan dan sebagainya, yang minim gizi dan hanya berisi lemak dan garam.


Sepertinya, pemujaan berlebihan terhadap makanan ini harus kita cermati lagi. Bagaimanapun, sudah saatnya kita lebih peduli pada tubuh kita. Makanan memang menjadi kebutuhan, tapi seharusnya tak membuat kita abai akan dampaknya terhadap tubuh. Sudah saatnya kita tak lagi hanya mementingkan soal kelezatan di lidah, tapi juga kebaikan di perut.


Sudah saatnya pula kita berhenti melihat orang kurus sebagai orang susah dan sakit-sakitan (oke, kalo ini curcol dikit, sih) dan menganggap orang gemuk itu makmur dan sehat. Mau gemuk atau kurus, yang lebih penting adalah kita peduli pada badan kita. Kita jaga kesehatannya sebagai bentuk tanggung jawab kita atas amanah dari Tuhan.


Alhamdulillah, gaya hidup sehat sudah mulai marak akhir-akhir ini. Semoga diikuti pula dengan pergeseran paradigma “makmur itu gemuk” ke arah yang lebih positif, menjadi “makmur itu sehat”.


Stay healthy, stay grateful.🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: